Sabtu, 11/07/2020 07:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus menggelorakan `pernikahan` massal antara institusi pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Diksi) Kemdikbud, Wikan Sakarinto berharap program link and match vokasi dan DUDI tersebut jangan sampai hanya sebatas `pacaran`.
"Tidak hanya sekadar pacaran, mungkin zaman dulu ada foto-foto MoU masuk koran, mengaku sudah link and match, padahal tahapnya baru dating (kencan), pacaran saja belum," kata Wikan dalam dialog `Mengenal Program Vokasi Link and Match/Pernikahan Massal Pendidikan Vokasi dan IDUKA` di Metro TV pada Jumat (10/7).
Bentuk nyata pernikahan massal tersebut, lanjut Wikan, setidaknya terdiri dari empat hal yang dia sebut paket minimal pernikahan massal. Pertama, kurikulum yang diterapkan di industri harus disusun bersama, dan disepakati oleh industri.
Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS Pembungkaman Kesadaran Kritis
Aksi Provokasi saat Sholat Tarawih di Times Square New York
Bukan Pilihan Kedua, Mendiktisaintek Sebut Politeknik Justru Strategis
Selanjutnya, program magang untuk siswa vokasi harus sudah disusun sejak awal oleh kedua belah pihak, mulai dari kurikulum magang, hingga pembimbing magang.
"Ketiga, sejak awal diajar bersama. Dosen atau guru tamu itu minimal 50 jam per semester per prodi diberikan oleh ekspertis industri, untuk mengajar di vokasi atau SMK," terang dia.
Kurikulum menjadi poin yang paling penting dalam hal ini menurut Wikan. Sebagai `resep`, kurikulum seharusnya jangan hanya berisi kemampuan kasar (hard skill), namun juga kemampuan halus (soft skill) yang banyak dibutuhkan oleh industri.
"Kurikulum yang disusun sesuai dengan industri. Industri bilang lulusan anda kurang bisa komunikasi, team work, problem solving, maka harusnya kurikulum itu mengemas paket soft skill itu ke dalam paket komplit. Hard skill dan soft skill seimbang," tandas dia.
Keyword : Pernikahan Massal Vokasi Wikan Sakarinto Kemdikbud