Senin, 30/12/2019 06:51 WIB
Baghdad, Jurnas.com - Presiden Irak, Barham Salih mengutuk serangan Washington terhadap Kata`ib Hizbollah, yang merupakan bagian dari Unit Mobilisasi Rakyat (PMU) Irak. Ia geram karena jumlah korban tewas akibat serangan itu mencapai puluhan orang.
Kantor Berita Irak (INA) melaporkan, Salih mengatakan serangana itu tidak dapat diterima, merusak dan bertentangan dengan perjanjian antara Baghdad dan Washington.
Juru bicara Panglima Angkatan Bersenjata Irak, Mayor Jenderal Abdul Karim Khalaf mengatakan, Adel Abdul-Mahdi, yang saat ini perdana menteri sementara Irak, menyuarakan penentangannya terhadap serangan itu lewat pesan kepada Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Mark Esper.
"Mengebom markas PMU adalah pemburukan berbahaya yang membahayakan keamanan Irak dan kawasan itu," kata sumber media Irak mengutip pernyataan Abdul-Mahdi.
Iran Siap Berunding, Tawarkan Proposal Baru ke Amerika Serikat
Momen King Charles III Lontarkan Candaan ke Donald Trump
AS Klaim telah Sita Hampir 500 Juta Dolar Aset Kripto Iran
Perdana menteri itu juga dilaporkan memerintahkan Komando Operasi Gabungan Irak (JOC) untuk tidak mengizinkan operasi udara atau darat terjadi di negara itu tanpa persetujuan pemerintah.
Sebelumnya, pasukan AS melakukan serangan udara di sejumlah pangkalan Kata`ib HIzbollah di provinsi barat Anbar, Irak, menewaskan sedikitnya 25 orang dan menyebabkan 51 lainnya luka-luka.
Pentagon juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, pihaknya sudah menargetkan tiga lokasi pejuang Irak di Irak dan dua di Suriah sebagai tanggapan atas dugaan serangan yang menargetkan pasukan AS.