Rabu, 27/11/2019 16:28 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Presiden Majelis Nasional Turkistan Timur Sayyit Tumturk mengatakan, dokumen yang diungkap International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) terntang pelanggaran HAM China hanyalah sebagian kecil kekerasan yang dihadapi etnis Uighur.
"Banyak fakta-fakta yang belum diungkap seperti doktrinasi yang dilakukan China kepada anak-anak kecil di Uighur," kata Tumturk kepada wartawan di Jakarta kemarin
Tumturk, yang kini tinggal di Turki, mengatakan pemerintah China juga memasukkan para anggota Partai Komunis China ke rumah para warga Uighur.
Kegiatan yang disebut sebagai Program Persahabatan itu, kata Tumturk, dilakukan untuk mengawasi aktivitas etnis Uighur sebagai upaya deideologisasi.
Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.410 Orang, 5.650 Lainnya Masih Hilang
China Desak AS-Iran Kembali Berdialog, Tekanan Militer Dinilai Bukan Solusi
Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.400 Orang, 5.800 Lainnya Masih Hilang
Tumturk meminta dunia internasional bersuara dalam merespons fakta-fakta ini. Menurutnya temuan dokumen mengenai pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur bukanlah barang baru.
"Ada hak asasi internasional Uighur yang harus dibela," ujar Tumturk.
Tumturk juga meminta perhelatan Kuala Lumpur Summit, yang diinisiasi Malaysia, Turki, Pakistan, Qatar, dan Indonesia, pada Desember mendatang mengangkat persoalan Uighur.
"Saya tidak meminta negara-negara Muslim memutuskan hubungan diplomatik dengan China. Tapi isu HAM harus menjadi headline dalam pertemuan itu," terangnya.
Keyword : Dokumen BocorChinaEtnis Uighur