Kamis, 19/09/2019 10:50 WIB
Ankara, Jurnas.com - Menteri Perdagangan Turki, Ruhsar Pekcan, mengatakan, negaranya sudah jadi korban terburuk dari sejumlah sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Dalam pertemuan dengan pengusaha Iran dan pejabat Ankara, Pekcan mengatakan, Turki kehilangan lebih banyak pendapatan perdagangan daripada negara lain sejak Washington memberlakukan sanksi pada Iran, November lalu.
"Turki adalah yang paling terkena dampak sanksi yang dijatuhkan pada Republik Islam Iran," kata Pekcan, seperti yang diberitakan harian Turki Sabah dan laporan serupa kantor berita IRNA .
Meski begitu, Peckan memastikan Ankara akan terus berusaha memperluas hubungan dagangnya dengan Teheran meskipun ada tekanan dari Paman Sam.
Parlemen Klaim Kemenangan Iran, Sebut Gencatan Senjata Strategi
Negosiator Iran Sebut Pembicaraan dengan AS Tunjukkan Kemajuan
Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, Timur Tengah Terus Memanas
Turki dan Iran merasakan lompatan besar dalam perdagangan bilateral sebelum sanksi dimulai karena 30 miliar pertukaran sudah ditetapkan dalam berbagai dokumen yang ditandatangani pejabat tinggi negara-negara tetangga.
Sanksi AS mempengaruhi perdagangan. Pertukaran saat ini diperkirakan sekitar USD12 miliar. Hantaman larangan itu sebagian besar terasa dalam impor energi dan petrokimia Turki dari Iran.
Awal tahun ini, otoritas Iran, mengatakan, ekspor ke Turki menurun secara signifikan pada Juni dan Juli. Ankara surplus perdagangan dengan Iran untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.
Pekcan optimistis bisa mencapai tujuan USD30 miliar dalam perdagangan bilateral dengan peluang yang dapat muncul dari perjanjian perdagangan preferensial antara kedua negara.
Ia mengatakan total 166 perusahaan Turki tetap aktif di Iran meskipun ada sanksi AS, sementara total investasi Turki di Iran senilai USD 1,3 miliar.