Sabtu, 30/03/2019 17:16 WIB
Jakarta, Jurnas.com - kekurangan pesawat Boeing 737 Max 8 yang pernah alami kecelakaan dengan menewaskan semua penumpang, ternyata sudah diketahui sebelumnya sejak dua tahun lalu. Misalnya, saat Lion Air dan Ethiopian Airlines jatuh.
Dikabarkan Reuters, padahal dari regulator penerbangan di AS dan Eropa itu tahu ada kemungkinan metode lazim untuk mengontrol moncong pesawat tidak berfungsi dalam kondisi tertentu.
Alasan European Aviation and Space Agency (EASA) memberikan sertifikat aman pada Boeing 737 Max 8, karena Boeing mengatakan akan memberikan paparan prosedur dan pelatihan tambahan pada pilot.
Dan dari informasi itu juga, diharapkan bisa menjelaskan kepada pilot soal anomali pada pesawat. Mereka harus memutar kemudi pesawat secara manual -hal yang jarang dilakukan- untuk mengontrol sudut pesawat.
Pesawat Tempur F4 Yunani Jatuh Saat Atraksi Udara, Dua Pilot Tewas
Vietnam Air Nyaris Celaka, Pemerintah Perintahkan Evaluasi Darurat
Pesawat Wisata Kecil Jatuh dan Terbakar, 13 Orang Tewas
"Kondisi tersebut tidak diungkapkan di petunjuk manual penerbangan," bunyi dokumen sertifikat EASA yang dilihat Reuters. Dokumen itu dikeluarkan pada Februari 2016.
Fakta sejalan dengan temuan awal dalam penyidikan jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines. Kesimpulan awal penyelidikan menunjukkan bahwa sistem anti-stall diaktifkan sebelum pesawat jatuh.
Tim yang menyelidiki jatuhnya pesawat Lion Air pada Oktober lalu juga berfokus pada sistem yang disebut MCAS itu. Stall adalah kondisi ketika pesawat kehilangan daya dorong di udara
Keyword : Lion AirBoeing 737Kecelakaan Pesawat