Iran akan Hukum Dalang Bom Bunuh Diri di Iran

Kamis, 14/02/2019 22:12 WIB

Tehran, Jurnas.com - Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengutuk bom bunuh diri di provinsi Sistan-Baluchestan di negara itu. Ia berjanji akan menghukum "tentara bayaran kriminal" yang menewaskan 27 anggota elit Korps Penjaga Revolusi Islam.

"Tanpa ragu, semua pelaku dan mereka yang memerintahkan tindakan keji dan mencolok ini akan segera dihukum dengan kerja keras pasukan keamanan kuat negara itu," kata Rouhani dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs webnya, Kamis (14/2).

Ia mengatakan, serangan pada Rabu malam adalah "rasa malu lain dalam sejarah kelam para sponsor utama terorisme yang menjalin hubungan antara insiden dan tindakan-tindakan Amerika Serikat, Israel dan agen regional mereka terhadap Iran.

Dalam pernyataan terpisah sebelum berangkat ke kota Sochi, Rusia, Rouhani juga dikutip oleh kantor berita IRNA mengatakan bahwa Teheran akan membuat mereka yang bertanggung jawab atas insiden mematikan itu "membayar darah para martir kita".

Kemudian, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga menimbang mengatakan bahwa hubungan antara para pelaku serangan "dan agen mata-mata dari negara-negara regional dan ekstra-regional tertentu sudah jelas".

Ia juga memerintahkan Pengawal Revolusi untuk menyelidiki "kemungkinan kelalaian" yang mungkin menyebabkan insiden itu. Pengawal Revolusi berada di bawah komando langsung Pemimpin Tertinggi.

Pada hari yang sama, Gubernur Jenderal Sistan-Baluchestan, Ahmad Ali Mouhebati, yang berbatasan dengan Pakistan, menyatakan tiga hari berkabung untuk menghormati para korban.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Bahram Ghasemi, juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan serangan itu akan "dibalas segera".

"Personel militer dan intelijen Iran yang rela berkorban akan membalas dendam atas para martir insiden ini," kata Ghasemi.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa "bukan kebetulan" bahwa negaranya dilanda pada hari yang sama ketika AS mengadakan pertemuan puncak di Polandia, yang dianggap bertujuan untuk melawan Iran.

"AS tampaknya selalu membuat pilihan salah yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda," tulisnya di media sosial, Rabu, tak lama setelah serangan itu.

TERKINI
Mendikdasmen Salurkan 1.577 IFP untuk Ribuan Sekolah di Sidoarjo Arif Rahman Diganjar Legislator Fokus Kesejahteraan Petani dan Nelayan Ketua Ombudsman Terima Rp1,5 Miliar dari Bos Tambang Nikel Ekspedisi Patriot 2026 Difokuskan ke Papua, Kementrans Libatkan 10 Kampus