Rusia dan Saudi Sepakat Kurangi Produksi Minyak

Kamis, 29/11/2018 20:48 WIB

London - Rusia kabarnya semakin mantap untuk mengurangi produksi minyak sebagaimana rencana Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Akan tetapi Moskow masih melakukan tawar-menawar dengan pemimpin kelompok produsen, termasuk Arab Saudi, mengenai waktu dan volume pengurangan.

Dilansir dari Reuters, pada Kamis (29/11), Kementerian Energi Rusia menggelar pertemuan dengan para pemimpin produsen minyak domestik pada Selasa lalu, menjelang pertemuan pada 6-7 Desember di Wina.

“Ide pada pertemuan itu ialah Rusia perlu mengurangi (produksi minyak). Pertanyaan kuncinya, seberapa cepat dan seberapa banyak, ”kata salah satu sumber dari kementerian tersebut.

"Kebanyakan orang setuju bahwa kami tidak dapat mengurangi dengan segera, perlu proses bertahap seperti terakhir kali," lanjut pejabat yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, karena dilarang berbicara kepada media.

Perusahaan minyak Rusia Rosneft (ROSN.MM) dan Gazprom Neft (SIBN.MM) menolak berkomentar. Lukoil (LKOH.MM), Tatneft (TATN.MM), Surgutneftegas, Gazprom (GAZP.MM) dan Novatek (NVTK.MM) juga tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar.

OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, telah menahan produksi di bawah pakta yang dicapai pada akhir 2016 untuk menopang harga minyak.

Moskow setuju untuk mengurangi produksi 300.000 barel per hari (bpd), atau seperenam dari keseluruhan potongan 1,8 juta barel per hari, tetapi perusahaan Rusia memerlukan waktu beberapa bulan untuk mencapai tingkat pengurangan itu.

Dalam hal ini, Riyadh juga telah meminta OPEC mengurangi produksi sebesar 1 juta bpd mulai Januari 2019, guna menahan penurunan harga. Pasalnya minyak mentah Brent LCOc1 turun di bawah US$59 per barel minggu ini, dari rekor US$85 pada Oktober, dengan alasan kelebihan pasokan.

Jika Rusia menanggung proporsi pemotongan yang sama, seperti yang terjadi di bawah perjanjian yang ada, maka bagian pengurangannya akan berjumlah 166.000 bpd.

"Juga dikatakan bahwa mengurangi hingga seperenamnya kali, ini adalah permintaan besar," tegas sumber itu.

TERKINI
Gunung Semeru Erupsi Disertai Awan Panas pada Hari Ini Hizbullah: Gencatan Senjata Tidak Bisa Sepihak, Janji Balas Serangan Israel Parlemen Klaim Kemenangan Iran, Sebut Gencatan Senjata Strategi Insiden Delay Bagasi Parah di Bandara KLIA, Menteri Panggil Pengelola