Selasa, 14/08/2018 09:53 WIB
Tangerang - Dahulu, operasi sering meninggalkan bekas luka cukup besar, rasa nyeri pasca bedah yang signifikan dan pemulihannya pun memerlukan waktu yang lebih lama.Pada anak-anak, saat ini banyak pembedahan minimal invasif yang menjadi pilihan utama sebagai solusi permasalahan pembedahan untuk si kecil.
Dokter Spesialis Bedah Anak dari Rumah Sakit Awal Bros Tangerang Dr. Alifi Maulidyan, SpBA menjelaskan pembedahan minimal invasif memerlukan peralatan yang kecil dan sayatan lebih sedikit dibandingkan pembedahan tradisional.
WHO Deklarasikan Status Gawat Darurat Wabah Ebola di Afrika
7 Makanan Bergizi yang Bikin Kenyang Lebih Lama
Lebanon Laporkan 2.969 Orang Tewas Akibat Serangan Israel Sejak Maret
Sayatan yang umumnya lebih besar pada bedah konvensional berhubungan dengan jaringan sehat lebih banyak mengalami cedera, rasa nyeri pasca bedah lebih signifikan dan penmulihanpun lebih lama.
Single incision laparoscopicDengan inovasi teknologi kesehatan, saat ini pembedahan minimal invasif pada perut memungkinkan untuk dilakukan hanya dengan satu sayatan kecil pada pusar (umbilikus).Port khusus akan dimasukkan, dan kemudian prosedur pembedahan dilakukan seluruhnya melalui sayatan di pusar. Permasalahan bedah anak yang sangat cukup sering-seperti radang usus buntu (appendisitis), hernia, dan undesensus testis dapat dilakukan melalui pendekatan single incision laparoscopic surgery.
Mengingat bekas sayatan pada teknik ini amatlah kecil, kadang teknik ini juga dikenal sebagai almost no scar surgery.Kondisi apa saja yang bisa ditangani dengan bedah minimal invasif?• Radang usus buntu (appendisitis)