Kamis, 26/07/2018 07:26 WIB
Beirut - Pasukan Islamic State Iraq and Syria (ISIS) menewaskan lebih dari 200 orang dalam serangan terkoordinasi di wilayah Suriah baratdaya. Serangan tersebu disebut paling mematikan di negara itu selama bertahun-tahun.
Disebutkan para jihadis menyerbu beberapa desa dan melancarkan ledakan-ledakan bunuh diri di ibukota provinsi, Sweida, dekat salah satu dari beberapa kantong terpencil yang masih dipegang ISIS setelah diusir dari sebagian besar wilayahnya tahun lalu.
Kepala otoritas kesehatan provinsi Sweida mengatakan kepada FM Sham yang pro-Damaskus bahwa 215 orang tewas dan 180 terluka dalam serangan itu, serta 75 anggota ISIS.
Observatorium Pengawasan Perang Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan para jihadis menewaskan lebih dari 200 orang termasuk banyak warga sipil. ISIS mengatakan dalam pernyataan sebelumnya, mereka telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam serangan itu.
Larangan Medsos untuk Remaja Bisa Jadi Bumerang, Ini Temuan Studinya
Menghasut Lewat Dakwah, Mufti Agung Suriah Era Assad Diadili
Super El Nino Berpotensi Pecahkan Rekor Krisis Pangan-Kemanusiaan Mengintai
Para jihadis melancarkan serangan serentak di beberapa desa di timur laut kota Sweida, di mana mereka bentrok dengan pasukan pemerintah, dan media.
Di kota itu sendiri, setidaknya dua penyerang meledakkan diri, satu di dekat pasar dan yang kedua di distrik lain, kata televisi pemerintah. Kantor berita negara SANA mengatakan dua militan lainnya tewas sebelum mereka meledakkan diri.
Gubernur Sweida Amer al-Eshi mengatakan pihak berwenang juga menangkap penyerang lain. "Kota Sweida aman dan tenang sekarang," katanya kepada televisi Ikhbariyah yang dikelola pemerintah.
Seperti diketahui ISIS kehilangan hampir semua wilayah yang pernah dimilikinya di Suriah tahun lalu dalam serangan terpisah oleh tentara yang didukung Rusia dan aliansi milisi yang didukung AS.
Kemudian sisahnya dihancurkan pasukan Presiden Bashar al-Assad dan pasukannya di kantong-kantong pemberontak yang tersisa dekat kota Damaskus dan Homs dan menyapu pemberontak dari barat daya.
Dilansir dari Ruters, setelah kehilangan bentengnya di Suriah timur tahun lalu, ISIS melancarkan operasi pemberontakan dari kantong-kantong wilayah di daerah gurun.