Tak Perlu Alergi dengan Beragam Penafsiran Alquran

Rabu, 20/12/2017 23:28 WIB

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengajak masyarakat Muslim terbiasa dengan beragam penafsiran Alquran. Sebab, bagaimanapun, Alquran merupakan teks yang multi-tafsir, sehingga meniscayakan produk penafsiran yang beraneka ragam.

Menag mencontohkan, dua imam fiqih terbesar Sunni, yakni Imam Syafi’i dan Imam Hanafi, dalam hal menafsirkan beberapa kosa kata Alquran juga tidak sama. Padahal keduanya merupakan pengguna Bahasa Arab.

“Jadi sebenarnya, Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa apapun, selama itu bahasa manusia, tentu akan menimbulkan keragaman penerjemahan,” jelas Menag Lukman usai meluncurkan ‘Alquran Terjemah Tiga Bahasa Daerah’, di Kantor Kemenag, Jakarta, Rabu (20/12).

Bahasa Tuhan dalam Alquran memang diciptakan untuk mewadahi keragaman. Menurut Lukman, dengan keragaman tersebut lah manusia bisa memilih penafsiran mana yang sesuai dengan konteks yang berlaku.

“Begitu cara Tuhan untuk menjelaskan keragaman. Supaya manusia yang terbatas, memiliki pilihan yang sesuai dengan konteks. Apalagi bahasa itu terus berkembang dan makin dinamis,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Menag, merupakan hal yang tidak tepat bila ada klaim tafsir tunggal terhadap Alquran. Sebab, manusia yang diciptakan sebagai makhluk terbatas, juga memiliki perspektif yang terbatas pula.

“Jangan punya obsesi aka ada satu tafsir tunggal terhadap Alquran. Itu tidak mungkin. Persspektif kita terbatas, maka masing-masing melihat dari sudut pandang yang tidak sama,” tuturnya.

TERKINI
KPK Limpahkan Perkara Yaqut Cholil ke Pengadilan Setalah Musim Haji 2026 Alasan Burung Garuda Dipilih Sebagai Lambang Negara Indonesia KPK Tunggu Laporan JPU Sebelum Panggil Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Tebang 30 Pohon di Hutan Lindung Lampung, Dua Pembalak Liar Diamankan