Bukan Sekadar Seremoni, Ini Sejarah Player Escort

Selasa, 17/06/2025 13:01 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Dalam setiap pertandingan sepak bola internasional atau turnamen besar, pemandangan anak-anak kecil yang berjalan beriringan dengan para pemain saat memasuki lapangan sudah menjadi hal yang lazim.

Mereka dikenal dengan sebutan player escort atau pendamping pemain. Meski sering dianggap sekadar pelengkap seremoni, ternyata kehadiran mereka memiliki sejarah panjang dan makna yang cukup mendalam.

Tradisi menghadirkan anak-anak sebagai pendamping pemain diyakini mulai populer pada pertengahan tahun 1990-an.

Salah satu pendorong utamanya adalah kolaborasi antara FIFA dan berbagai sponsor besar, seperti McDonald`s dan Coca-Cola, yang melihat potensi besar dalam melibatkan generasi muda dalam olahraga sepak bola.

Tujuan awalnya sederhana, yaitu mendekatkan anak-anak dengan dunia olahraga, khususnya sepak bola, serta memberikan mereka pengalaman tak terlupakan.

Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan player escort juga menjadi simbol dari nilai-nilai yang lebih luas dalam dunia olahraga.

Meski terlihat sederhana, tugas seorang player escort bukan hanya berjalan berdampingan dengan pemain. Mereka adalah representasi dari harapan, perdamaian, dan semangat universal yang dijunjung tinggi oleh olahraga ini.

Dalam banyak ajang internasional, seperti Piala Dunia, kehadiran anak-anak ini menyampaikan pesan moral bahwa sepak bola adalah milik semua kalangan, termasuk generasi masa depan.

Anak-anak yang terpilih sebagai player escort biasanya berasal dari berbagai latar belakang dan budaya, yang menunjukkan keragaman dan inklusivitas.

Mereka juga sering dipilih melalui berbagai cara, seperti lomba menggambar, penulisan esai, atau program komunitas yang dijalankan oleh sponsor resmi atau asosiasi sepak bola nasional.

Bagi banyak anak, menjadi player escort adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Bayangkan saja berjalan bersama Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Kylian Mbappé di hadapan ribuan penonton dan jutaan pasang mata di seluruh dunia ini adalah pengalaman seumur hidup.

Tak sedikit dari mereka yang mengaku bahwa momen tersebut menjadi motivasi untuk menekuni olahraga, bahkan bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional di masa depan.

Dalam beberapa edisi turnamen, terutama di tengah kondisi global yang sedang dilanda konflik atau bencana, kehadiran player escort juga menjadi simbol harapan.

Misalnya, FIFA pernah mengajak anak-anak dari daerah konflik atau korban bencana untuk menjadi pendamping pemain, sebagai pesan solidaritas dan perhatian dunia terhadap mereka.

 

TERKINI
Rukun Haji yang Tidak Boleh Dilewatkan, Apa Saja? Selain Kartini, Berikut Deretan Pahlawan Nasional Perempuan Indonesia Jelang Haji 2026, Makanan Jemaah Indonesia di Madinah Diawasi Ketat Tak Mau Buru-buru, DPR Prioritaskan Kualitas Revisi UU Pemilu