Rabu, 09/04/2025 16:35 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan neraca perdagangan Indonesia masih kuat, namun kenaikan tarif impor Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump harus diwaspadai dan diantisipasi.
Sri Mulyani menyampaikan AS menjadi negara tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia setelah China, hingga tarif impor Trump sebesar 32% menjadi sumber risiko bagi RI.
"Neraca ekspor Indonesia terhadap AS masih surplus 13,2% atau sebesar US$ 26,3 miliar pada 2024 dari sebelum tahun sebelumnya US$ 23,3 miliar," kata Sri Mulyani.
Jumlah tersebut termasuk paling besar dari 10 negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.
13 Negara Top 50 Peringkat FIFA yang Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026
Netanyahu Perintahkan Serangan Udara, Warga Dahiyeh Mulai Melarikan Diri
Mengenal Sejarah Berdirinya BPIP dan Tugasnya
Total nilai ekspor Indonesia ke-10 negara itu mencapai US$ 254,7 miliar pada 2024, meningkat 2,3% dari tahun sebelumnya.
Menurutnya, pemerintah sudah menyiapkan langkah mitigasi dengan cara negosiasi untuk penurunan tarif impor AS terutama melalui deregulasi, dan mengoptimalkan potensi trade diversion.
Keyword : Sri Mulyani Tarif Impor Neraca Perdagangan