Kabar Baik dari Way Kambas, Dua Badak Sumatera Ratu dan Delilah Bunting

Minggu, 04/10/2026 23:53 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Kabar menggembirakan datang dari Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dua induk badak sumatera betina, Ratu dan Delilah, kini tengah bunting, membuka harapan baru bagi upaya menjaga keberlangsungan satwa yang berstatus kritis tersebut.

Kabar itu disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Badak Sedunia 2026 yang digelar di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Sabtu (3/10/2026).

Per 3 Oktober 2026, Ratu tercatat menjalani kebuntingan untuk calon anak keempat bersama pejantan Andalas. Usia kebuntingannya telah mencapai 238 hari atau sekitar 7,9 bulan.

Sementara itu, Delilah tengah menjalani kebuntingan untuk calon anak kedua bersama pejantan Harapan. Usia kebuntingannya tercatat 251 hari atau sekitar 8,3 bulan.

Kondisi kesehatan serta perkembangan kedua induk kini dipantau secara intensif oleh tim medis, keeper, dan manajemen SRS TNWK. Pemantauan tersebut akan terus dilakukan hingga proses kelahiran.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir menyebut kebuntingan Ratu dan Delilah sebagai perkembangan penting dalam upaya konservasi badak sumatera, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia.

“Kehamilan dua bayi badak sumatera ini bukan hanya kabar baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Ini menegaskan bahwa kebuntingan kedua induk badak tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mempertahankan keberlangsungan populasi badak sumatera melalui pengembangbiakan yang terencana, pengelolaan kesehatan reproduksi, serta pemantauan individu secara intensif," ujar Munawir dalam siaran resmi.

Ketua Pengurus YABI, Jansen Manansang menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung program di SRS TNWK. Ia juga secara khusus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada International Rhino Foundation (IRF), TSI dan TFCA Sumatera atas dukungan pendanaan yang diberikan untuk mendukung keberlangsungan program di SRS TNWK.

“Kami dan Balai Taman Nasional Way Kambas berkomitmen untuk terus memantau kondisi kesehatan induk, perkembangan kebuntingan, serta kesiapan induk hingga proses kelahiran. Tim medis SRS akan melakukan pemantauan secara intensif agar Ratu dan Delilah dapat melalui masa kebuntingan dengan baik hingga melahirkan anak yang sehat," ungkapnya.

Badak sumatera berstatus kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List, dengan jumlah tidak lebih dari 80 ekor di alam. Satwa ini kini hanya tersisa di Indonesia, tersebar di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Kalimantan Timur.

Dengan siklus kebuntingan 15–16 bulan dan masa menyapih hingga dua tahun, setiap kebuntingan dan kelahiran tidak hanya menambah individu baru, tetapi juga memperkuat peluang menjaga keragaman genetik dan membangun populasi untuk konservasi jangka panjang.

TSI sebagai lembaga konservasi bersama YABI dan Kementerian Kehutanan menggelar World Rhino Day 2026 pada 3–4 Oktober 2026 dengan tema “Keep the Five Alive, Stand Together for Rhinos”. Ada lima jenis badak yang masih hidup di dunia, dan Indonesia menjadi rumah bagi dua di antaranya: badak sumatera dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus), yang keduanya berstatus Critically Endangered.

Rangkaian acara hari pertama, Sabtu (3/10/2026), dimulai pukul 14.30 WIB di area Plaza Gajah, Restaurant Rain Forest, dengan parade maskot satwa endemik Indonesia: harimau sumatera, badak jawa, badak sumatera, gajah sumatera, serta tarian selamat datang.

Acara dilanjutkan sambutan Founder Taman Safari Indonesia Jansen Manansang, sekaligus Ketua Pengurus dan Direktur Eksekutif YABI dalam struktur organisasi Yayasan dan Pembina YABI, Letjen TNI (Purn) Dodik Wijanarko.

Pada sesi talkshow, tiga narasumber hadir yaitu Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir yang membahas kondisi, kebijakan, dan tantangan konservasi badak Indonesia; Wakil Dewan Pembina YABI, Hadi S. Alikodra yang membahas keberhasilan natural breeding dan Assisted Reproductive Technology (ART); serta Anggota Dewan Pembina YABI Willem Manansang yang menyoroti peran organisasi konservasi, kolaborasi multipihak, dan dukungan masyarakat. Acara dihadiri perwakilan pemerintah, mahasiswa, serta pembina dan pengurus YABI.

Selama dua hari, pengunjung dapat mampir ke sejumlah booth diantaranya Rhino Corner hasil kolaborasi tim edukasi TSI dan YABI (mewarnai dan berbagai games), booth donasi dan merchandise YABI untuk mendukung pelestarian badak, serta booth face painting Safari Wonders.

Di area yang sama ada pula booth Justin Matteo Manansang, siswa Jakarta Intercultural School (JIS), yang dinobatkan The Wildlife Guardians sebagai “Our Warrior of the Month”. Justin menggalang dana untuk pelestarian badak dan menerima piagam penghargaan dari TSI pada 2 September 2026. Aksinya menjadi pengingat bahwa konservasi bisa dimulai siapa saja.

Pada Minggu (4/10/2026), di lokasi yang sama, digelar rangkaian edukasi berupa dongeng tentang badak untuk anak dan keluarga, dikemas dalam sesi story telling ramah anak dengan video dan kuis berhadiah. Pengunjung dapat menikmati seluruh rangkaian acara dengan tiket masuk reguler Taman Safari Bogor.

TERKINI
Marinir Ditangkap atas Dugaan Pencurian dan Pembunuhan di Okinawa Teheran Sebut Insiden Flydubai Direkayasa untuk Salahkan Iran Kabar Baik dari Way Kambas, Dua Badak Sumatera Ratu dan Delilah Bunting Lebih dari 800 Guru Palestina Tewas Sejak Perang Gaza, 3.300 Lebih Terluka