Selasa, 29/09/2026 20:45 WIB
Seoul, Jurnas.com - Korea Selatan menegaskan bahwa insiden ledakan yang melukai tiga prajuritnya di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada pekan lalu dipicu oleh ranjau darat milik Korea Utara.
Seoul menilai aksi tersebut sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan mengambil langkah balasan yang setimpal.
Insiden ledakan yang terjadi di kawasan penyangga beranjau tersebut menyebabkan seorang tentara Korea Selatan kehilangan kakinya. Batas utara dan selatan DMZ dikenal sebagai salah satu perbatasan dengan penjagaan paling ketat di dunia, dan insiden ranjau darat kerap memicu eskalasi ketegangan antar kedua negara.
Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kang Shin-chul, menyampaikan sikap tegas tersebut saat menghadiri rapat dengar pendapat di parlemen usai menerima laporan penyelidikan awal militer.
Serangan Udara Israel Tewaskan Tiga Anak-Anak di Gaza Utara
Israel Serang Gaza di Tengah Genjata Senjata, 11 Orang Tewas
"Ini adalah pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata, dan karena Korea Utara bertanggung jawab, kami akan mengambil tindakan balasan yang sesuai," ujar Kang dikutip dari AFP pada Selasa (29/9).
Kang menjelaskan bahwa para prajurit berada di DMZ untuk memotong vegetasi perbatasan guna mempersiapkan operasi pemetaan bersama Komando PBB. Langkah pemetaan dilakukan untuk menilai perubahan lanskap daratan di selatan Garis Demarkasi Militer yang dipicu oleh aktivitas pasukan Korea Utara.
Meski personel menggunakan pendeteksi ranjau model terbaru, lebatnya rimbun semak belukar menyulitkan proses penyisiran. Pihak militer menduga alat pendeteksi dioperasikan terlalu tinggi dari permukaan tanah sehingga keberadaan ranjau tidak terdeteksi.
Dalam penyisiran lanjutan pada Selasa ini, tim investigasi menemukan satu ranjau plastik anti-personel milik Korea Utara yang belum meledak.
Peristiwa yang terjadi pada 21 September tersebut menambah panjang rekam jejak ketegangan di perbatasan, terutama setelah Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai musuh utama pada 2024.
Sejak penetapan tersebut, militer Pyongyang gencar menanam ranjau tambahan serta membangun barikade anti-tank untuk menutup garis perbatasan secara permanen.