Senin, 28/09/2026 15:45 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim pihaknya telah memfasilitasi pengiriman terhadap lebih dari 20 juta barel minyak melalui Selat Hormuz selama akhir pekan.
"Lebih dari 20 juta barel," kata Trump kepada portal berita Axios pada Minggu (27/9).
Trump mencatat jumlah tersebut merupakan volume minyak terbesar yang telah melewati Selat Hormuz dalam satu akhir pekan sejak konflik antara AS dengan Iran dimulai.
Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah target di Iran hingga memicu serangan balasan.
Trump Tolak Tawaran Gencatan Senjata Iran, Serangan Baru Bisa Berlanjut
Iran Ajukan Rencana Normalisasi Selat Hormuz dalam Tujuh Hari
Tegas, Presiden Iran Takkan Bebaskan Selat Hormuz selama Ada Sanksi
Pada pertengahan Juni, Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, meskipun konflik kembali berlanjut tak lama kemudian. Konflik tersebut hingga kini belum terselesaikan.
Kemudian, pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga berakhirnya campur tangan AS di kawasan tersebut.
Trump pun mengatakan AS akan menjadi "penjaga" di Selat Hormuz dan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan dan perairan Iran.
Eskalasi tersebut membuat lalu lintas pelayaran melalui jalur air strategis itu hampir terhenti, sehingga berdampak pada pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair, serta mendorong kenaikan harga bahan bakar secara global.
Pada awal September, Trump mengusulkan agar Selat Hormuz diganti namanya menjadi selat dengan menggunakan namanya. Trump kembali mengeklaim AS telah menguasai jalur air tersebut.
Gedung Putih sebelumnya juga telah mengunggah peta di media sosial yang menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump".
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Keyword : Presiden ASSelat HormuzDonald Trump