Senin, 14/09/2026 11:53 WIB
Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meragukan laporan yang menyebutkan bahwa Iran memperoleh citra satelit pangkalan militer di Yordania dari entitas China sebelum terjadinya serangan yang menewaskan tiga tentara AS pada Juli lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (13/9/2026) kemarin.
Saat ditanya apakah dirinya akan mengungkit isu intelijen ini dalam rencana pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping, Trump tidak memberikan jawaban langsung dan justru menyetarakan aktivitas pengawasan yang dilakukan kedua negara.
"Mereka pada dasarnya melakukan apa yang kita lakukan. Ketika mereka mengatakan China memata-matai kita, saya katakan Anda benar dan kita juga memata-matai mereka," ujar Trump dalam penerbangan kembali ke AS usai kunjungan akhir pekan ke Irlandia.
Menlu Korsel dan Iran Bahas Keamanan Pelayaran di Selat Hormuz
Iran Umumkan Zona Terlarang Baru untuk Tanker di Teluk Oman
Trump Usul Ganti Nama Selat Hormuz Jadi "Selat Trump"
Laporan yang sebelumnya dirilis oleh The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang mengklaim adanya pasokan citra satelit kepada pihak Teheran. Meski demikian, laporan tersebut mengonfirmasi bahwa para pejabat tidak mengidentifikasi entitas spesifik yang terlibat dan tidak mengarahkan keterlibatan langsung dari pemerintah Beijing.
Presiden AS dan Presiden China dijadwalkan bakal menggelar pertemuan bilateral di Amerika Serikat pada 24 September mendatang, meskipun pemerintah Beijing hingga kini belum menyampaikan konfirmasi resmi mengenai kepastian agenda tersebut.
Trump menegaskan kembali pandangannya bahwa hubungan personal dirinya dengan Xi Jinping tetap terjaga dengan baik di tengah gejolak geopolitik global.
"Saya pikir dia telah bersikap cukup baik, dan kami juga bersikap cukup baik," tambah Trump.
Sikap santai yang ditunjukkan Trump dinilai sejalan dengan upaya pemerintahannya untuk meredam potensi lonjakan ketegangan diplomatik antara Washington dan Beijing, di tengah rasa frustrasi internal AS atas makin eratnya hubungan kerja sama antara China dan Iran.