Wabah Ebola di Kongo Meluas, 3.226 Orang Tewas

Rabu, 09/09/2026 19:26 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus meluas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat virus kini telah menyebar ke 61 zona kesehatan di enam provinsi, setelah wilayah Kayna di Provinsi North Kivu ikut terdampak.

Sejak wabah dimulai pada pertengahan Mei, sedikitnya 6.686 kasus Ebola telah tercatat, termasuk 3.226 kematian, menurut laporan situasi WHO Afrika yang dirilis Selasa (8/9) malam.

Perluasan ke Kayna menambah wilayah yang harus mendapat perhatian dalam pengendalian wabah. Enam provinsi yang terdampak adalah Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, Bas-Uele, dan Tshopo.

WHO menggambarkan pola epidemi wabah strain virus Bundibugyo di Kongo semakin kompleks. Tren penularan berbeda-beda antarprovinsi dan zona kesehatan.

Di sejumlah wilayah, penularan mulai menurun. Namun, kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan peningkatan penularan dan perluasan geografis di wilayah lainnya.

“Itu menunjukkan epidemi yang semakin heterogen, dengan penularan yang menurun di sejumlah wilayah terjadi bersamaan dengan peningkatan dan perluasan geografis di tempat lain,” kata WHO dalam laporan tersebut dikutip ANadolu, Rabu (9/9).

Provinsi Ituri masih menjadi pusat utama wabah. Penularan juga tetap tinggi di North Kivu dan Haut-Uele, sementara wilayah baru terus masuk dalam daftar daerah terdampak.

Salah satu perkembangan yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya proporsi kematian akibat Ebola yang terjadi di komunitas, sebelum pasien mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.

Pada periode 31 Agustus hingga 6 September, sekitar 75 persen kematian terkonfirmasi terjadi di komunitas. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan dua pekan sebelumnya yang mencapai 56,6 persen.

WHO menilai tingginya kematian di komunitas dapat mencerminkan berbagai hambatan dalam penanganan pasien. Hambatan tersebut mencakup keterlambatan mendeteksi dan melaporkan kasus, keterlambatan membawa pasien ke fasilitas pengobatan, serta rendahnya pengenalan gejala penyakit.

Faktor geografis dan transportasi juga menjadi kendala. Selain itu, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem penanganan kesehatan turut berpengaruh.

WHO memperingatkan kondisi tersebut karena penurunan kematian di fasilitas kesehatan sebelumnya tidak lagi diikuti penurunan kematian secara keseluruhan.

“Perbedaan tren ini mengkhawatirkan,” kata WHO, mengacu pada meningkatnya kematian di komunitas ketika kematian di fasilitas pengobatan justru menurun.

Pemerintah Kongo bersama mitra kesehatan pekan lalu meluncurkan rencana multisektor baru selama 180 hari untuk memperkuat respons terhadap wabah. Nilai rencana tersebut $1,3 billion (US$1,3 miliar).

Rencana tersebut dirancang untuk memperbesar dan mengoordinasikan berbagai upaya guna memutus rantai penularan Ebola. Fokusnya mencakup penguatan pengawasan epidemiologi, pelacakan kontak, keterlibatan masyarakat, komunikasi risiko, serta kapasitas logistik.

Pemerintah juga menyiapkan langkah khusus untuk provinsi-provinsi yang dinilai berisiko terdampak. Munculnya kasus di zona kesehatan baru menunjukkan bahwa pengendalian wabah masih menghadapi tantangan besar. Penurunan penularan di sejumlah wilayah belum cukup untuk menghentikan penyebaran karena wilayah lain justru mengalami peningkatan kasus.

Besarnya proporsi kematian yang terjadi di komunitas juga menunjukkan pentingnya menemukan pasien lebih cepat dan memastikan mereka dapat memperoleh perawatan.

Dengan 6.686 kasus dan 3.226 kematian sejak pertengahan Mei, respons terhadap wabah kini tidak hanya bergantung pada penanganan pasien, tetapi juga kemampuan pemerintah dan mitra kesehatan menjangkau masyarakat, menemukan kasus, melacak kontak, dan mencegah munculnya rantai penularan baru. (*)

Sumber: Anadolu

TERKINI
Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.410 Orang, 5.650 Lainnya Masih Hilang Wabah Ebola di Kongo Meluas, 3.226 Orang Tewas Saan NasDem soal Pidato AHY: Kami Hormati, Tapi Koalisi Butuh Kebersamaan Alexander-Arnold Seperti Pemain Linglung saat Main Lawan Inter