Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.385 Orang, Ribuan Lainnya Masih Hilang

Minggu, 06/09/2026 23:15 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor di sepanjang perbatasan Nepal-China terus bertambah. Sebelas hari setelah bencana menerjang pada 26 Agustus, sedikitnya 1.385 orang dilaporkan meninggal dunia dan 5.519 lainnya masih hilang berdasarkan data resmi dari Nepal dan China.

Di Nepal, jumlah korban meninggal mencapai 1.342 orang. Otoritas Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Bencana Nepal menyebut sekitar 5.000 orang masih belum ditemukan, termasuk 589 warga negara asing.

Lebih dari 13.000 orang telah berhasil diselamatkan dari wilayah yang terdampak banjir. Namun, operasi pencarian dan penyelamatan masih menghadapi kondisi medan yang sulit akibat kerusakan jalan dan jembatan serta longsor yang memutus akses ke sejumlah wilayah.

Di wilayah Xizang, China, sedikitnya 43 orang telah dikonfirmasi meninggal dunia dan 519 lainnya masih hilang. Jika digabungkan, jumlah korban hilang di Nepal dan China mencapai 5.519 orang, termasuk sekitar 850 warga negara asing.

Bencana tidak hanya menyisakan persoalan pencarian korban. Ribuan ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan kini menghadapi kondisi sulit di tempat pengungsian yang serba terbatas.

Kerusakan jalan dan jembatan membuat akses menuju layanan kesehatan semakin sulit. Para ibu juga kesulitan mendapatkan tempat yang layak untuk menyusui, makanan yang sesuai, air bersih, serta pertolongan medis jika persalinan mengalami komplikasi.

Keluhan lain muncul dari kondisi tempat pengungsian yang padat. Asap rokok, bau alkohol, serta makanan dan air yang tidak higienis dikhawatirkan memperburuk kondisi kesehatan ibu dan bayi.

Fasilitas vaksinasi untuk anak-anak juga belum tersedia di kamp-kamp pengungsian.

Seorang ibu baru yang hanya disebut dengan nama Pariyar mengatakan keluarganya juga kesulitan mendapatkan makanan yang cukup dan tepat waktu setelah mengungsi dari Trishuli.

Ibu lainnya, Sharmila Shrestha, mengatakan tidak ada makanan khusus untuk bayi sehingga anaknya terpaksa mengonsumsi makanan berat yang sama dengan orang dewasa. Ia bersama dua anaknya kini tidur di ruang kelas sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian.

Situasi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan karena jumlah ibu hamil yang berada di kawasan terdampak cukup besar.

Berdasarkan perkiraan United Nations Population Fund, sekitar 4.430 ibu hamil berada di 15 wilayah administratif di Rasuwa, Nuwakot dan Dhading, tiga distrik yang termasuk paling parah terdampak banjir.

Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 500 persalinan dapat terjadi dalam satu bulan ke depan. Sekitar 74 perempuan kemungkinan membutuhkan layanan obstetri darurat.

Kondisi rumah sakit juga tidak mudah. Di Trishuli Hospital, bangsal bersalin berubah menjadi fasilitas medis darurat di tengah situasi krisis.

Kepala departemen, Basanti Pancha, mengatakan rumah sakit telah menangani sembilan persalinan sejak banjir terjadi. Namun, tenaga dan fasilitas kesehatan juga harus menangani pasien dengan berbagai keluhan lain, termasuk demam, berkurangnya pergerakan janin dan infeksi saluran kemih selama kehamilan.

Gangguan listrik semakin memperberat kondisi. Generator menjadi satu-satunya sumber listrik untuk menjalankan operasi.

Pancha mengatakan sebelum bencana, perjalanan menuju Kathmandu hanya membutuhkan sekitar dua jam melalui jalur darat. Kini, longsor membuat waktu tempuh sulit diperkirakan.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan dari luar negeri mulai berdatangan. Pakistan pada Minggu mengirimkan 100 ton bantuan untuk wilayah Nepal yang terdampak banjir.

Menurut pernyataan Kantor Perdana Menteri Pakistan, bantuan tersebut terdiri atas tenda, selimut, tikar, perlengkapan kebersihan dan obat-obatan.

Namun, kebutuhan di lapangan masih sangat besar. Selain pencarian ribuan orang yang belum ditemukan, tantangan berikutnya adalah memastikan para penyintas, terutama ibu hamil, ibu yang baru melahirkan dan bayi, mendapatkan tempat tinggal sementara, makanan, air bersih serta akses layanan kesehatan yang memadai. (*)

Sumber: Anadolu

TERKINI
Korban Tewas Banjir Nepal Tembus 1.385 Orang, Ribuan Lainnya Masih Hilang IRGC Sebut Sanksi Ekonomi Justru Rugikan AS Dibanding Iran Kian Nyetel, Carlos Espi Jadi Ancaman untuk Mbappe-Vinicius Korban Agresi Israel ke Palestina Terus Bertambah, Tembus 73.651 Orang