Kamis, 03/09/2026 12:45 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah memperketat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki September yang diperkirakan menjadi periode paling krusial dalam penanganan kebakaran tahun ini.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli mengingatkan, September menjadi periode yang sangat menentukan dalam pengendalian karhutla. Hal itu disampaikannya saat memantau kondisi karhutla di Jambi, Rabu (2/9), bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan Gubernur Jambi Al Haris.
“Puncak karhutla ini adalah bulan September. Ini medan perjuangan, ladang perjuangannya justru di September ini,” kata Menhut Raja Juli dalam keterangan resmi dikutip Kamis (3/9).
"Jadi semua pihak, pemerintah, TNI, Polri, termasuk masyarakat, diharapkan bersama-sama berpartisipasi untuk mengatasi persoalan karhutla ini," kata Menhut Raja Juli lagi.
Ini Sejarah Hari Berlakunya Kesetaraan Gender Sedunia Setiap 3 September
Mengapa Hari Pencakar Langit Internasional Diperingati Setiap 3 September?
Mengenal Sejarah Hari Lahir Kejaksaan Republik Indonesia Setiap 2 September
Menurutnya, seluruh unsur pemerintah dan masyarakat harus mempertahankan kesiapsiagaan karena kondisi hotspot dapat berubah dalam waktu singkat.
Secara nasional, Menhut Raja Juli mengatakan tren hotspot yang sebelumnya menurun di sejumlah provinsi prioritas kembali meningkat, terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Karena itu, Kementerian Kehutanan akan kembali melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat di Pontianak untuk mengevaluasi kondisi terbaru sekaligus menyusun langkah mitigasi.
“...Kami melakukan evaluasi, sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk memitigasi dan memastikan agar angka, baik hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi, dapat turun,” ujarnya.
Di Jambi, situasi dinilai relatif lebih terkendali. Namun pemerintah tetap diminta tidak lengah karena titik panas baru masih dapat muncul dan harus segera diverifikasi.
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris mengatakan Pemerintah Provinsi Jambi bersama seluruh unsur satuan tugas terus mengutamakan kecepatan respons ketika ditemukan kebakaran. Pemadaman darat segera dilakukan dan dapat diperkuat dengan dukungan water bombing apabila dibutuhkan.
“Begitu ada kebakaran, langsung kita kejar titik api di mana, langsung ada pemadaman dengan tim Satgas di daerah, lalu diikuti lagi dengan water bombing yang telah disiapkan BNPB,” ujar Al Haris.