PBB Prediksi Pemanasan Global Tembus 1,5 Derajat Celsius

Kamis, 03/09/2026 12:15 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Pemanasan global diperkirakan akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun ke depan. Namun, laporan terbaru Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menegaskan bahwa peluang untuk menurunkan kembali suhu global masih terbuka jika emisi gas rumah kaca dipangkas secara drastis dan dunia mampu mencapai emisi negatif bersih secara berkelanjutan.

UNEP menyebut dunia kemungkinan akan melewati batas 1,5°C dibandingkan tingkat praindustri, sehingga risiko perubahan iklim meningkat ke tingkat yang semakin berbahaya.

“Kenaikan suhu global akan melampaui 1,5°C, kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan, mendorong risiko dan dampak iklim ke tingkat yang semakin berbahaya, tetapi masih mungkin menurunkan suhu dan mencapai tujuan Perjanjian Paris,” demikian laporan terbaru UNEP.

UNEP menawarkan jalur yang disebut “overshoot, peak and decline” sebagai pilihan terbaik untuk membatasi dampak pemanasan.

Dalam skenario tersebut, suhu global terlebih dahulu melewati 1,5°C, kemudian mencapai titik puncak sebelum perlahan turun kembali di bawah ambang tersebut.

Kuncinya adalah pemangkasan emisi gas rumah kaca secara besar-besaran untuk menekan kenaikan suhu, kemudian mempertahankan emisi negatif bersih dalam jangka panjang agar jumlah gas rumah kaca yang dikeluarkan dari atmosfer lebih besar daripada yang dilepaskan.

Namun, laporan UNEP menunjukkan bahwa jalan tersebut tetap sangat sulit. Bahkan dalam skenario paling optimistis, suhu global diperkirakan mencapai puncak sekitar 1,8°C di atas tingkat praindustri sebelum berangsur turun.

Sebagian besar skenario lainnya memperkirakan puncak pemanasan yang lebih tinggi. UNEP memperingatkan bahwa risiko perubahan iklim tidak berhenti ketika suhu melewati 1,5°C.

Setiap tambahan pecahan derajat pemanasan dan setiap tahun yang dihabiskan di atas ambang tersebut dapat memperbesar dampaknya, mulai dari cuaca ekstrem yang semakin parah hingga kerusakan ekosistem.

Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen mengatakan dunia sudah melihat bagaimana gelombang panas ekstrem dapat menimbulkan dampak yang semakin cepat dan berat.

“Tidak ada hasil yang baik jika suhu tetap berada di atas 1,5°C,” ujar Andersen.

Menurutnya, gelombang panas ekstrem telah menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim dapat datang lebih cepat, terasa lebih berat, dan berlangsung lebih lama, dengan konsekuensi terhadap kehidupan manusia dan aktivitas ekonomi.

Jika suhu global terus meningkat, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan cuaca. UNEP memperkirakan pemanasan yang lebih tinggi dapat memperburuk risiko terhadap kesehatan manusia, ketahanan pangan, pasokan air, alam, kota, infrastruktur, dan perekonomian.

Dampak tersebut juga dapat muncul dengan pola berbeda. Sebagian perubahan bisa terjadi secara tiba-tiba, sementara sebagian lainnya menumpuk secara perlahan selama bertahun-tahun.

Semakin lama suhu bertahan pada tingkat tinggi, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung berbagai sistem alam dan masyarakat.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah meningkatnya peluang terjadinya titik kritis iklim atau tipping points. UNEP memperingatkan bahwa kemungkinan mencapai titik-titik tersebut meningkat seiring bertambahnya tingkat dan durasi pemanasan.

Beberapa risiko yang disoroti antara lain ketidakstabilan lapisan es utama dunia, degradasi hutan hujan Amazon, serta terganggunya Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC).

AMOC merupakan sistem arus laut besar yang membawa air permukaan hangat ke utara dan air laut dingin ke wilayah selatan. Sistem ini berperan penting dalam mengatur distribusi panas dan iklim global.

Jika sistem-sistem tersebut mengalami perubahan besar, dampaknya dapat meluas jauh melampaui wilayah tempat perubahan itu pertama kali terjadi.

Peringatan UNEP tidak berarti batas 1,5°C menjadi tidak relevan setelah terlampaui. Sebaliknya, laporan tersebut menunjukkan bahwa seberapa tinggi suhu mencapai puncaknya dan berapa lama suhu bertahan di atas 1,5°C tetap sangat menentukan besarnya kerusakan.

Karena itu, pemangkasan emisi yang cepat tetap penting meskipun ambang tersebut kemungkinan dilampaui dalam beberapa tahun mendatang. Semakin cepat emisi ditekan, semakin rendah potensi puncak pemanasan dan semakin pendek periode suhu berada di atas 1,5°C. (*)

Sumber: Anadolu

TERKINI
Dua Remaja Palestina Tewas Diserang Pemukim Israel Ribuan Warga Spanyol Gelar Aksi Demonstrasi Tolak Krisis Migran di Ceuta PBB Prediksi Pemanasan Global Tembus 1,5 Derajat Celsius Pemerintah Diminta Perkuat Anggaran Perlindungan Perempuan dan Anak