Rabu, 02/09/2026 17:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa para inspekturnya menemukan 73 ton logam uranium alam tak terlaporkan di lokasi baru di Deir el-Zour, Suriah, menurut laporan rahasia IAEA yang didistribusikan kepada negara anggota dan ditinjau oleh The Associated Press.
Badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menyatakan bahwa mantan otoritas Republik Arab Suriah di bawah kepemimpinan Bashar Assad telah membangun reaktor nuklir ilegal dan gagal melaporkan material, fasilitas, serta aktivitas nuklir sesuai ketentuan Perjanjian Pengawasan NPT.
"Mantan otoritas Suriah telah gagal melaporkan material, fasilitas, dan aktivitas nuklir sebagaimana diwajibkan dalam Perjanjian Pengawasan NPT," ujar IAEA dalam laporannya.
Temuan IAEA mencakup bukti keberadaan reaktor nuklir yang sedang dibangun di Deir el-Zour, pabrik fabrikasi bahan bakar, serta lokasi yang digunakan untuk penyimpanan bahan bakar selama masa pemerintahan Assad.
Otoritas Suriah Temukan Penyelewengan Bank Rp130 Miliar Era Assad
IAEA: Korea Utara Capai Kemajuan Signifikan dalam Produksi Senjata Nuklir
PBB Beri Ruang Diplomasi soal Nuklir kepada Iran, Batas Waktu Pekan Ini
IAEA menisbatkan seluruh aktivitas ini kepada mantan otoritas Republik Arab Suriah.
Menurut IAEA, Suriah menjalankan program nuklir rahasia berskala luas, termasuk reaktor yang dilaporkan dibangun dengan bantuan Korea Utara di provinsi Deir el-Zour bagian timur.
Setelah penggulingan Assad, pemerintah baru Republik Arab Suriah memberikan akses kepada inspektur IAEA ke lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai bekas situs nuklir.
Inspektur IAEA, sebagaimana dirinci dalam laporan tersebut, mengonfirmasi keberadaan 73 ton logam uranium alam di lokasi yang baru dideklarasikan itu, dengan seluruh material kini berada di bawah pengawasan dan isolasi ketat IAEA.
Sumber: Arabnews