Korban Tewas Banjir dan Longsor Nepal-Tibet Tembus 804, Hampir 3.300 Hilang

Minggu, 30/08/2026 22:29 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di Nepal serta wilayah Tibet, China, terus bertambah. Hingga Minggu, jumlah korban tewas mencapai 804 orang, sementara hampir 3.300 orang masih dinyatakan hilang.

Di Nepal, aparat kepolisian telah menemukan 788 jenazah dari wilayah terdampak. Sebanyak 2.742 orang masih hilang, termasuk ratusan warga negara asing.

Sementara itu, otoritas China melaporkan 16 orang meninggal dunia dan 546 orang masih hilang di wilayah Tibet. Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan di kedua sisi perbatasan Nepal-China.

Di Nepal, pencarian masih dilakukan terhadap 2.498 orang yang belum ditemukan. Mereka termasuk 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air, 589 warga negara asing, 127 warga Nepal yang bepergian bersama wisatawan asing, serta warga dari sejumlah distrik terdampak.

Skala operasi penyelamatan terus diperbesar. Hampir 20.000 personel keamanan telah dikerahkan dan berhasil menyelamatkan 8.186 orang, sementara operasi helikopter mengevakuasi 279 pekerja pembangkit listrik dan 227 warga negara asing ke tempat aman.

Di tengah pencarian korban, bantuan juga terus disalurkan kepada masyarakat terdampak. Makanan dan kebutuhan pokok dikirim ke sejumlah wilayah, tim medis dikerahkan, dan bantuan tunai pemerintah mulai diberikan.

Bencana terjadi pada Rabu di kawasan perbatasan Nepal dan China setelah runtuhan gletser secara tiba-tiba memicu aliran air dan material dalam jumlah besar yang menerjang lembah-lembah Himalaya.

Gelombang air dan material tersebut menghancurkan permukiman serta merusak infrastruktur penting. Medan yang berupa pegunungan terjal, lembah sempit dan kawasan sulit dijangkau membuat proses pencarian semakin berat.

Identifikasi korban juga menjadi persoalan serius. Jarak yang jauh dari lokasi kejadian membuat jenazah terbawa aliran banjir ke berbagai wilayah, sementara sejumlah jenazah ditemukan dalam kondisi yang menyulitkan proses identifikasi.

Rumah sakit dan fasilitas pemulasaraan juga menghadapi keterbatasan kapasitas. Otoritas Nepal berupaya mempertahankan bukti serta menangani jenazah yang telah ditemukan.

Nepal kemudian meminta bantuan khusus untuk menghadapi medan dan kebutuhan operasi yang kompleks, termasuk penyelamatan di terowongan, teknologi pendeteksi korban selamat, analisis forensik dan DNA, serta peralatan untuk menjaga kondisi jenazah.

Tim pengintai penyelamatan terowongan dari India yang beranggotakan 11 orang telah tiba di Nepal untuk membantu operasi.

Sementara itu, otoritas juga memantau sebuah danau baru yang terbentuk di kawasan Himalaya dan sempat memunculkan kekhawatiran akan terjadinya banjir susulan.

Namun, pejabat China mengatakan danau tersebut telah menyusut secara signifikan dan kini pada dasarnya telah terkuras setelah airnya mengalir secara alami. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gelombang banjir baru dalam waktu dekat.

Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan bantuan kemanusiaan lebih dari US$3,6 juta untuk Nepal, termasuk bantuan pangan darurat bagi hingga 10.000 rumah tangga yang terdampak.

Operasi pencarian dan penyelamatan diperkirakan masih akan berlangsung karena banyak wilayah terdampak sulit dijangkau. Jumlah korban tewas dan hilang juga masih dapat berubah seiring tim penyelamat membuka akses menuju daerah yang terisolasi dan menemukan lebih banyak korban. (*)

Sumber: Anadolu

TERKINI
Mendagri Ajak Pemda Perkuat Gotong Royong Bantu Daerah Tangani Bencana Korban Tewas Banjir dan Longsor Nepal-Tibet Tembus 804, Hampir 3.300 Hilang Roma Resmi Umumkan Kedatangan Leonardo Balerdi dari Marseille Ndiaye Bakal Gabung, Spurs Siap Lepas Richarlison