Minggu, 30/08/2026 10:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf membantah klaim Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengenai tekanan ekonomi Washington terhadap Tehran.
Qalibaf merespons pernyataan Bessent yang menyebut blokade dan kebijakan ekonomi AS akan menghancurkan perekonomian Iran.
“Liar, liar, pants on fire,” tulis Qalibaf dalam unggahan di platform X pada Sabtu (29/8).
Ia juga menyinggung angka 130 juta barel minyak yang menurut Bessent telah diarahkan AS ke pasar global dalam 14 hari terakhir. Qalibaf justru meminta Bessent melihat apa yang disebutnya sebagai “130 yang sebenarnya”.
Presiden Iran Minta Trump Hindari Gejolak dan Pilih Jalur Dialog
Iran dan Oman Sepakat Buka Selat Hormuz Jika AS Penuhi Komitmen
Iran Buka Peluang Jalur Diplomasi Lagi dengan AS, Asal...
Menurut Qalibaf, data Moody’s yang ia rujuk menunjukkan biaya terkait perang telah mencapai lebih dari US$130 miliar. Angka tersebut setara sekitar Rp2.000 triliun jika menggunakan kurs Rp15.500 per dolar AS.
Qalibaf juga mengklaim perusahaan perdagangan AS Jane Street mengalami kerugian lebih dari US$130 juta setelah bertaruh terhadap penurunan harga minyak dalam satu kali rollover kontrak berjangka.
“Liar, liar, yields on fire,” tambah Qalibaf sembari membagikan artikel ekonom Paul Krugman berjudul Scott Bessent Fails to Gaslight the Market.
Sebelumnya, Bessent mengatakan blokade dan kebijakan yang disebutnya sebagai “Operation Economic Outcast” akan menghancurkan ekonomi Iran yang sedang mengalami tekanan. Ia juga mengklaim AS telah mengarahkan 130 juta barel minyak ke pasar selama dua pekan sebelumnya.
Perselisihan tersebut berlangsung di tengah ketegangan Iran-AS yang meningkat sejak perang dimulai dengan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Iran kemudian membalas dengan menargetkan posisi dan aset militer AS di sejumlah negara Arab yang menjadi sekutu Washington.
Tehran dan Washington sebelumnya menandatangani nota kesepahaman di Islamabad pada Juni setelah dimediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mengakhiri permusuhan sekaligus membuka jalan bagi perundingan.
Namun, pelaksanaan kesepakatan menghadapi berbagai kendala. Iran menuding AS belum memenuhi komitmen yang telah disepakati dalam nota tersebut. (*)
Sumber: Anadolu