Kamis, 27/08/2026 08:23 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China, menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan lebih dari 680 orang dilaporkan hilang. Bencana terjadi di kawasan utara Nepal dan wilayah Tibet bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Nepal.
Di Nepal, aparat melaporkan 157 orang tewas dan 54 lainnya berhasil diselamatkan dari wilayah terdampak banjir. Sementara di wilayah Tibet yang oleh pemerintah China disebut sebagai Daerah Otonomi Xizang, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan 265 lainnya masih hilang.
Bencana tersebut dipicu banjir bandang di kawasan Sungai Bhotekoshi dan Lhende, yang kemudian membawa material lumpur dan bebatuan dalam jumlah besar.
Pemerintah Nepal menyebut daftar orang hilang mencakup berbagai kelompok, mulai dari warga sipil, pekerja proyek pembangkit listrik, wisatawan hingga personel keamanan.
Banjir Assam India Tewaskan 100 Orang, 1,1 Juta Warga Terdampak
16.156 Rumah Terendam Banjir Bandang di Musi Rawas Utara
Banjir Bandang di Pemalang, Gelondongan Kayu Hantam Ratusan Rumah Warga
Sebanyak 44 personel militer, 28 polisi, 13 personel kepolisian bersenjata, serta 60 pekerja sipil proyek pembangkit listrik dilaporkan masih hilang.
Selain itu, sekitar 484 wisatawan dan pelintas sebelumnya dilaporkan belum diketahui keberadaannya. Mereka terdiri atas 391 warga asing dan 93 warga Nepal.
Sejumlah warga negara asing dari India, Inggris, Afrika Selatan, Malaysia, Australia dan Belanda termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Delapan warga Korea Selatan juga dilaporkan belum diketahui keberadaannya, sementara 10 lainnya terjebak akibat banjir.
Dampak bencana tidak hanya menimbulkan korban jiwa. Pemerintah Nepal memperkirakan sedikitnya 19 jembatan tersapu banjir, sementara sekitar 40 kilometer jalan rusak.
Sebanyak 13 proyek pembangkit listrik tenaga air turut terdampak dan sekitar 200 truk dilaporkan terseret arus.
Menteri Luar Negeri Nepal Sishir Khanal mengatakan banjir menyebabkan kerusakan besar terhadap proyek pembangkit listrik, kantor pemerintahan serta berbagai fasilitas jalan.
Di wilayah China, longsor juga menghantam kawasan dekat Pelabuhan Gyirong, salah satu jalur perbatasan penting antara China dan Nepal.
Media pemerintah China melaporkan akses jalan menuju pelabuhan terputus. Jaringan komunikasi dan pasokan listrik di kawasan tersebut juga mengalami gangguan.
Operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran dilakukan di kedua sisi perbatasan.
Nepal mengerahkan personel dari kepolisian, kepolisian bersenjata dan militer dengan dukungan helikopter, drone serta peralatan penyelamatan di air.
Rumah sakit pemerintah dan fasilitas medis yang dikelola lembaga keamanan di Kathmandu juga disiapkan untuk menerima korban yang membutuhkan perawatan.
Di China, Presiden Xi Jinping memerintahkan pengerahan seluruh sumber daya untuk pencarian dan penyelamatan, termasuk mengevakuasi warga yang berada di lokasi berisiko serta memberikan perawatan medis kepada korban.
Penyebab awal bencana masih dalam penyelidikan. Namun, analisis citra satelit Planet Labs mengindikasikan adanya longsor batu dan salju di dekat perbatasan Nepal-China yang kemungkinan memicu banjir bercampur material di Sungai Lhende.
Otoritas Nepal masih melakukan penilaian terhadap penyebab dan dampak keseluruhan bencana.
Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menyatakan aktivitas seismik yang sebelumnya disebut berkaitan dengan kejadian tersebut merupakan longsor bermagnitudo sekitar 5,2, bukan gempa bumi.
Sebelumnya, gempa bermagnitudo 4,4 disebut sebagai kemungkinan pemicu longsoran dan banjir bandang.
Sementara itu, India menyatakan siap membantu Nepal menangani bencana tersebut. Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan belasungkawa kepada Perdana Menteri Nepal Balendra Shah dan mengatakan tim India berkoordinasi dalam upaya penyelamatan serta bantuan kemanusiaan.
India kemudian mengirim 10 ton bantuan kemanusiaan, peralatan penanganan bencana dan obat-obatan untuk mendukung respons Nepal.
Wilayah terdampak merupakan jalur penting bagi wisatawan yang menuju kawasan trekking Langtang. Sebagian pelintas juga menggunakan kawasan Rasuwagadhi untuk perjalanan menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar di China.
Dengan banyaknya wisatawan dan pekerja yang berada di kawasan tersebut, proses pencarian masih terus dilakukan. Pemerintah kedua negara juga memperbarui data korban dan orang hilang seiring berlangsungnya operasi penyelamatan. (*)
Sumber: Anadolu