Kebakaran Hutan Bisa Tinggalkan Racun Arsenik di Sungai Bertahun-tahun

Rabu, 26/08/2026 22:31 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Kebakaran hutan ternyata tidak berhenti membawa risiko ketika api padam. Studi terbaru menunjukkan kadar arsenik di sungai dan aliran air dapat meningkat setelah kebakaran, bahkan dalam beberapa kasus tetap tinggi hingga bertahun-tahun kemudian.

Temuan tersebut berasal dari tinjauan terhadap penelitian mengenai arsenik di perairan setelah kebakaran. Jordan Willeford dan koleganya dari University of North Carolina at Chapel Hill bersama ilmuwan Environmental Protection Agency menyeleksi 676 publikasi dan akhirnya menganalisis 20 penelitian yang secara langsung mengukur dampak kebakaran terhadap arsenik di air.

Hasilnya, 16 dari 20 penelitian melaporkan peningkatan atau indikasi peningkatan kadar arsenik di air setelah kebakaran. Dari 17 penelitian yang secara khusus mengamati sungai dan aliran air, 15 menemukan pola serupa.

Dikutip dari Earth, arsenik sendiri merupakan unsur yang secara alami terdapat di batuan dan tanah. Namun, bentuk anorganiknya diketahui bersifat karsinogenik, sementara paparan jangka panjang dikaitkan dengan sejumlah gangguan kesehatan, termasuk diabetes dan kerusakan kulit.

Salah satu mekanisme utama yang ditemukan peneliti adalah limpasan air hujan.

Kebakaran menghilangkan vegetasi yang sebelumnya membantu menahan air dan menjaga tanah tetap stabil. Tanah yang terbakar juga dapat menyerap air lebih buruk sehingga ketika hujan turun, air lebih mudah mengalir di permukaan, membawa abu dan lapisan tanah menuju sungai.

Dalam 12 dari 20 penelitian, limpasan permukaan menjadi jalur utama atau kemungkinan utama masuknya arsenik ke perairan. Seluruh penelitian tersebut menemukan kadar arsenik yang lebih tinggi setelah kebakaran.

Kadar arsenik sering kali paling tinggi setelah hujan pertama turun di kawasan yang baru terbakar. Masalahnya, peningkatan tersebut tidak selalu segera menghilang.

Dua penelitian bahkan menemukan kadar arsenik masih tinggi lima hingga 10 tahun setelah kebakaran. Dalam salah satu kasus, air tersebut telah melalui proses pengolahan untuk kebutuhan minum tetapi masih tercatat melebihi batas yang ditetapkan.

Risiko menjadi lebih besar ketika kebakaran terjadi di kawasan yang memiliki riwayat aktivitas pertambangan.

Penelitian yang ditinjau menemukan kadar tertinggi pada aliran sungai di bawah kawasan pertambangan lama saat terjadi hujan. Konsentrasi arsenik terlarut mencapai 70 mikrogram per liter, sekitar tujuh kali batas federal 10 mikrogram per liter.

Jika arsenik yang menempel pada partikel turut dihitung, angkanya mencapai 740 mikrogram per liter.

Kawasan permukiman yang terbakar juga dapat menjadi sumber tambahan. Aliran air yang melewati kawasan permukiman terbakar memiliki kadar arsenik lebih tinggi dibandingkan aliran yang hanya melewati hutan terbakar.

Salah satu penyebabnya adalah material bangunan. Abu dari kayu yang sebelumnya menggunakan bahan pengawet berbasis arsenik tercatat mengandung 807 miligram arsenik per kilogram, sekitar 33 kali lebih tinggi dibandingkan sejumlah sampel abu lainnya.

Arsenik tidak hanya berpindah melalui air. Partikel halus dalam asap dan abu kebakaran dapat membawa arsenik ke wilayah yang jauh dari lokasi api.

Setelah kebakaran Camp Fire 2018 di Paradise, California, misalnya, arsenik yang terbawa partikel asap terdeteksi di stasiun pemantauan udara dekat Modesto, lebih dari 200 kilometer dari lokasi kebakaran.

Salah satu sampel pada hari dengan asap tercatat 2.000 persen lebih tinggi dibandingkan pengukuran ketika tidak terdapat asap.

Kondisinya dapat menjadi lebih serius ketika kebakaran terjadi di kawasan bekas pertambangan. Salah satu penelitian pendukung memperkirakan empat kebakaran di sekitar Yellowknife, Kanada, pada 2023 melepaskan sekitar 2 hingga 9 persen dari seluruh emisi arsenik yang berasal dari sumber alami secara global pada tahun tersebut.

Meski sungai dan aliran air menunjukkan pola yang cukup konsisten, informasi mengenai air tanah masih sangat terbatas.

Dari 20 penelitian yang ditinjau, hanya tiga yang mengamati air tanah dan hasilnya tidak seragam. Analisis berskala nasional menemukan rata-rata kadar arsenik pada air tanah yang telah diolah untuk konsumsi meningkat 0,92 mikrogram per liter dalam tiga tahun setelah kebakaran dan 0,95 mikrogram per liter dalam 10 tahun.

Dua penelitian lainnya tidak menemukan perubahan kadar arsenik yang terdeteksi.

Keterbatasan ini menjadi penting karena jutaan rumah tangga menggunakan sumur pribadi. Berbeda dengan sistem air publik, pengujian sumur pribadi di Amerika Serikat umumnya menjadi tanggung jawab pemilik dan tidak selalu diwajibkan.

Artinya, perubahan kualitas air tanah setelah kebakaran bisa saja terjadi tanpa terdeteksi.

Peneliti menilai masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab. Salah satunya adalah dampak tanah longsor setelah kebakaran karena longsoran dapat memindahkan tanah dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan limpasan biasa.

Dampak bahan pemadam kebakaran juga belum banyak diteliti. Sejumlah bahan penghambat api mengandung amonia dan fosfor yang secara teoritis dapat memengaruhi bentuk arsenik sehingga lebih mudah berpindah, tetapi bukti mengenai proses tersebut masih sangat terbatas.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena sebagian besar bukti berasal dari Kanada, Portugal, dan wilayah barat Amerika Serikat. Selain itu, penelitian yang ditinjau menggunakan metode dan kondisi kebakaran yang berbeda-beda.

Karena itu, para peneliti menilai air tanah perlu menjadi prioritas penelitian berikutnya.

Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa ancaman kebakaran hutan tidak selalu berakhir ketika api berhasil dipadamkan. Di wilayah yang memiliki bekas tambang, lahan pertanian, atau permukiman yang terbakar, perubahan kualitas air dapat menjadi persoalan lanjutan yang muncul setelah hujan datang. (*)

Studi lengkap mengenai temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal PLOS Water.

Sumber: Earth

TERKINI
Trump Sebut Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Terluka Parah Bahaya Asap Karhutla, Kemenkes Perkuat Perlindungan Anak hingga Lansia Kebakaran Hutan Bisa Tinggalkan Racun Arsenik di Sungai Bertahun-tahun Gempa Kolombia Tewaskan 331 Orang, Lebih dari 406 Ribu Warga Terdampak