Trump Sebut Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Terluka Parah

Rabu, 26/08/2026 23:24 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih hidup, tetapi mengalami luka serius di bagian kiri tubuhnya.

Dalam wawancara dengan komentator politik Glenn Beck pada Rabu (26/8), Trump mengatakan luka Khamenei mencakup bagian lengan dan kaki sebelah kiri.

“Dia mengalami luka yang sangat serius. Sisi kiri tubuhnya, lengan, kaki, semuanya,” kata Trump.

Trump bahkan mempertanyakan pernyataan pemerintah Iran yang menyebut masih berkonsultasi dengan Khamenei. Menurut dia, jika Khamenei sebenarnya telah meninggal, pemerintah Iran dinilai mampu mempertahankan kesan bahwa sang pemimpin masih terlibat dalam pengambilan keputusan.

Trump juga menyebut perang AS dan Israel dengan Iran akan berakhir dalam waktu relatif dekat, meski perundingan antara Washington dan Teheran belum kembali berjalan.

Trump kembali menyatakan bahwa Amerika Serikat telah berhasil membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Menurut Trump, sekitar 10 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz pada Selasa. Dia juga mengatakan 22 kapal berhasil melintas dengan aman dalam satu malam.

Trump sebelumnya menyatakan seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah berhasil dibersihkan atau diledakkan.

Namun, klaim tersebut dibantah Iran. Teheran menyatakan tidak ada pihak selain Iran yang mengetahui lokasi ranjau di kawasan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka sepenuhnya sebelum Amerika Serikat memenuhi tuntutan Teheran dan kembali menjalankan kerangka kesepakatan yang dicapai pada Juni.

Perbedaan klaim tersebut membuat status sebenarnya mengenai pembukaan Selat Hormuz masih menjadi salah satu persoalan utama dalam konflik kedua negara.

Trump mengatakan perang yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari akan berakhir “fairly soon” atau dalam waktu yang cukup dekat.

Meski demikian, Trump juga mengatakan dirinya tidak terburu-buru untuk kembali membuka pembicaraan dengan Iran. Dia juga menilai tekanan ekonomi dan serangan militer terhadap Iran sama-sama efektif.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah pemerintahan Trump pada Senin (24/8) meluncurkan Operation Economic Outcast, kampanye sanksi baru yang bertujuan semakin mengisolasi Iran dari sistem keuangan global.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan tersebut diarahkan untuk memutus sumber-sumber ekonomi utama Iran. Washington menggambarkannya sebagai upaya melakukan “economic asphyxiation” terhadap pemerintah Iran.

Persoalan Selat Hormuz berkaitan erat dengan kerangka kesepakatan yang dicapai Iran dan AS pada pertengahan Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.

Kedua negara ketika itu menandatangani kerangka 14 poin di Islamabad. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut AS, serta dimulainya proses negosiasi selama 60 hari.

Namun, implementasinya kemudian terhenti akibat perbedaan pandangan kedua negara. Teheran menuduh Washington tidak menjalankan sejumlah ketentuan penting dalam kesepakatan tersebut. (*)

Sumber: Anadolu

TERKINI
Mengapa Hari Danau Sedunia Diperingati Setiap 27 Agustus? 27 Agustus 2026, Cek Daftar Peringatan Hari Ini Aston Villa Dapat Angin Segar dalam Perburuan Rafael Leao Liverpool dan PSG Kian Dekat Capai Kesepakatan untuk Barcola