Fokus Perang Iran, AS Batal Gelar Latihan Militer Bersama Korea Selatan

Senin, 24/08/2026 20:05 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Korea Selatan mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat telah membatalkan latihan pendaratan amfibi gabungan berskala besar yang dijadwalkan berlangsung bulan depan, akibat keterbatasan pengerahan pasukan yang terpicu oleh perang AS-Israel melawan Iran.

Juru bicara Korps Marinir Korea Selatan, Han Seung-jeon, mengumumkan hal tersebut dalam konferensi pers di Seoul pada Senin (24/8).

"Korps Marinir AS secara resmi telah memberi tahu pasukan kami pada Juni lalu bahwa kemampuannya mengerahkan personel selama latihan Ssangyong tahun ini terhambat akibat situasi di Timur Tengah," ujar Han Seung-jeon kepada awak media.

Latihan dua tahunan Ssangyong melibatkan pasukan marinir Korea Selatan dan AS yang dirancang untuk memperkuat operasi gabungan, umumnya melibatkan kapal perang, pesawat tempur, hingga pasukan darat yang mensimulasikan pendaratan amfibi.

Han menambahkan bahwa Seoul dan Washington masih melanjutkan konsultasi mengenai peluang kelanjutan latihan amfibi tersebut di masa mendatang, tanpa merinci informasi lebih lanjut.

Hingga berita ini diturunkan, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) belum memberikan komentar resmi.

Pengumuman pembatalan ini menyusul keputusan mengejutkan Presiden AS Donald Trump pekan lalu yang memangkas durasi latihan militer tahunan terpisah (Ulchi Freedom Shield) yang berakhir pada Jumat lalu. Trump menyoroti besarnya biaya latihan serta penolakan Seoul untuk terlibat dalam perang melawan Iran.

Latihan Ulchi Freedom Shield yang semula dijadwalkan berlangsung selama 11 hari dipangkas secara drastis menjadi hanya lima hari.

Di sisi lain, Trump juga tengah berupaya menghidupkan kembali hubungan diplomasi yang pernah ia bangun dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pada periode pertama masa jabatannya.

Melalui unggahan di platform Truth Social miliknya pekan lalu, Trump menyebut latihan Ulchi Freedom Shield memberikan "sinyal yang sangat tidak tepat dan bermusuhan terhadap sebuah negara yang, selama Donald J. Trump menjabat sebagai Presiden, tidak pernah mengancam dan selalu menghormati."

Kendati durasi latihan telah dikurangi, Korea Utara tetap meluncurkan 10 rudal balistik jarak pendek pekan lalu dan merilis pernyataan resmi yang mengecam keras latihan gabungan tersebut.

Pyongyang sejak lama mengecam latihan militer bersama antara AS dan Korea Selatan sebagai bentuk simulasi invasi ke wilayahnya.

Presiden AS tersebut pekan lalu turut menegaskan pentingnya untuk "menjaga hubungan baik" dengan Kim, seraya menambahkan bahwa Pyongyang kini memiliki 57 senjata nuklir yang "sangat kuat". Sementara itu, Seoul memperkirakan Korea Utara saat ini memiliki 80 hingga 120 hulu ledak nuklir.

Trump sempat bertemu dengan Kim sebanyak tiga kali selama masa jabatan pertamanya. Namun, Pyongyang terus mempercepat program pengembangan nuklirnya setelah KTT kedua mereka di Hanoi pada 2019 berakhir buntu tanpa kesepakatan denuklirisasi.

TERKINI
BNPB Kerahkan 4 Helikopter Water Bombing Atasi Karhutla di Kalsel Tembus Pasar, Ini 6 Produk Kapal Karya Napi Lapas Sukamiskin Baleba Lolos Tes Medis di MU, Pakai Nomor Punggung Berapa? Fokus Perang Iran, AS Batal Gelar Latihan Militer Bersama Korea Selatan