Rabu, 19/08/2026 15:14 WIB
Teheran, Jurnas.com - Angkatan Bersenjata Iran memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak memberikan bantuan kepada militer Amerika Serikat. Teheran menegaskan bahwa dukungan tersebut akan dianggap sama saja dengan berpartisipasi dalam operasi militer AS.
"Kami ingin memperingatkan bahwa bantuan atau fasilitas apa pun yang diberikan kepada militer agresor AS dianggap sebagai partisipasi dalam operasi militer AS," tegas Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi, sebagaimana dilaporkan kantor berita Mehr, dikutip dari Arab News pada Rabu (19/8).
Perang antara Iran dan Amerika Serikat pecah pada 28 Februari menyusul serangan AS-Israel ke wilayah Republik Islam tersebut. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone, termasuk menyasar pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh kawasan.
"Tampaknya tidak mungkin sejumlah besar pesawat militer, khususnya pesawat pengisi bahan bakar (refueling aircraft), dapat berada di pangkalan-pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara-negara tuan rumah," ujar Abdollahi.
Erdogan Desak Trump Lanjutkan Dialog dengan Iran
Israel Hancurkan Jaringan Terowongan Hizbullah di Lebanon
Militer Iran Serang Sejumlah Pangkalan AS di Kuwait
"Negara-negara yang berbatasan dengan Teluk Arab, yang telah mengeluarkan berbagai pernyataan bahwa mereka tidak akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah mereka untuk melawan Iran, harus mengetahui bahwa kami sepenuhnya menyadari situasi yang terjadi," dia menambahkan.
Peringatan dari pihak Iran ini disampaikan tepat saat kapal induk USS George Washington dikirim kembali ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, menyusul laporan memburuknya kondisi kehidupan bagi para kru di atas kapal tersebut.
Diketahui, dampak perang terbuka antara AS dan Iran melumpuhkan jalur perdagangan energi global, terutama di sepanjang Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
Langkah Iran yang memperketat blokade di selat strategis tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dan memaksa kapal-kapal tanker internasional mengalihkan rute pelayaran demi menghindari risiko serangan.
Meskipun beberapa negara mediator seperti Qatar dan Pakistan terus mengupayakan pembukaan kembali ruang dialog, pengerahan armada tempur tambahan oleh militer AS ke wilayah perairan Timur Tengah menandakan bahwa krisis keamanan di kawasan tersebut masih jauh dari kata usai.