Selasa, 18/08/2026 12:49 WIB
Ankara, Jurnas.com - Presiden Turki Tayyip Erdogan mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk terus melanjutkan dialog diplomasi dengan Iran guna meredakan ketegangan antara kedua negara.
Dalam pembicaraan melalui sambungan telepon tersebut, Turki juga menawarkan dukungan penuh bagi upaya-upaya perdamaian kawasan, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Selasa (18/8).
Turki yang memiliki armada militer terbesar kedua di NATO dan berbatasan langsung dengan Iran, berulang kali menyerukan agar pertempuran segera dihentikan. Ankara terus menjalin kontak erat dengan AS, Iran, serta mediator seperti Pakistan dan Qatar, sekaligus bertindak sebagai perantara bagi pihak-pihak yang bertikai.
"Erdogan menyatakan bahwa sangat penting untuk memanfaatkan diplomasi semaksimal mungkin terkait ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, bahwa kami berharap pembicaraan akan berlanjut, dan bahwa Turki akan terus mendukung upaya perdamaian," ungkap Kepresidenan Turki dalam sebuah pernyataan resmi.
Militer Iran Serang Sejumlah Pangkalan AS di Kuwait
Militer AS Kembali Cegat Serangan Rudal Iran
Garda Revolusi Iran Pukul Mundur Enam Kapal di Hormuz
Percakapan telepon tersebut berlangsung setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin awal bahwa Iran akan beralih ke sikap militer ofensif penuh.
Langkah ini diambil karena upaya untuk mekerjakan penghentian perang secara permanen mengalami kebuntuan, seiring langkah Washington yang menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Kemajuan menuju pemulihan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz juga mengalami kebuntuan. Turki mengkritik serangan AS dan Israel terhadap Iran, sembari mengecam serangan Iran ke negara-negara Teluk dan menyerukan pembukaan kembali selat strategis tersebut.
Pada Senin (17/8) kemarin, Menteri Luar Negeri Turki telah membahas pembukaan kembali selat tersebut serta kelanjutan gencatan senjata dengan rekannya dari Iran.
Kepresidenan Turki menambahkan bahwa Erdogan dan Trump juga mendiskusikan hubungan bilateral, perang di Gaza, serta pakta pertahanan yang ditandatangani antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Pemimpin Turki tersebut memuji kesepakatan itu sebagai bentuk sikap tegas demi stabilitas dan keamanan regional.
Pihaknya menyebutkan bahwa Erdogan menyampaikan kepada Trump bahwa serangan Israel terhadap warga Palestina justru meningkat, pada saat fase kedua dari Rencana Perdamaian Gaza yang dicanangkan Trump seharusnya mulai diberlakukan.