Minggu, 16/08/2026 12:26 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Pola penggunaan kata-kata sederhana dalam percakapan anak ternyata dapat menjadi petunjuk terhadap risiko masalah kesehatan mental di masa depan.
Studi terbaru menemukan bahwa kata-kata kecil seperti and, to, but, dan when dapat membantu memprediksi gejala depresi dan kecemasan beberapa tahun sebelum gejala tersebut muncul.
Dikutip dari Earth, temuan ini berasal dari analisis terhadap rekaman wawancara 204 anak berusia 9–13 tahun. Penelitian dilakukan menggunakan rekaman anak-anak yang diwawancarai mengenai berbagai pengalaman sulit dalam hidup mereka.
Para peneliti tidak hanya melihat apa yang dialami anak, tetapi juga memperhatikan bagaimana anak menceritakan pengalaman tersebut.
Studi: Remaja Putri Paling Rentan Alami Gangguan Mental Akibat Media Sosial
Bising Lalu Lintas Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Mental, Studi Ungkap Alasannya
Kata seperti to, on, dan with termasuk dalam kategori function words, yakni kata-kata yang berfungsi menghubungkan atau membentuk struktur kalimat.
Chase Antonacci, mahasiswa doktoral bidang ilmu saraf di Stanford University yang memimpin analisis, mengatakan pola kata tersebut dapat memberikan gambaran mengenai cara anak berpikir.
“In a sense, function words reveal how a child thinks,” kata Antonacci.
Peneliti menggunakan perangkat lunak yang mengelompokkan kata-kata dalam wawancara ke dalam 117 kategori. Dari berbagai kategori tersebut, penggunaan kata depan atau prepositions menjadi salah satu prediktor paling kuat terhadap gejala kesehatan mental di kemudian hari.
Anak-anak yang beberapa tahun kemudian menunjukkan lebih banyak gejala juga cenderung menggunakan lebih banyak kata yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak mereka miliki.
Sebaliknya, anak-anak yang tetap sehat secara mental lebih banyak menggunakan kata-kata positif serta kata ganti seperti he, she, dan they.
Pola penggunaan kata I, me, dan my juga menjadi perhatian karena dapat menunjukkan fokus yang lebih besar pada diri sendiri. Sementara kata seperti always dan never dapat berkaitan dengan pola berpikir yang lebih kaku.
Rekaman yang dianalisis berasal dari penelitian Ian Gotlib di Departemen Psikologi Stanford. Anak-anak tersebut ditanya mengenai 30 jenis pengalaman sulit, mulai dari kecelakaan dan penyakit hingga pengabaian, kekerasan, dan masalah di rumah.
Setiap anak menceritakan sekitar lima atau enam pengalaman yang dianggap membuat stres. Wawancara berlangsung rata-rata sekitar 34 menit, dengan rata-rata sekitar 1.827 kata yang diucapkan setiap anak.
Para peneliti kemudian membandingkan pola bahasa tersebut dengan penilaian para ahli terhadap tingkat kesulitan yang dialami masing-masing anak.
Sekitar empat tahun setelah wawancara, ketika usia anak-anak tersebut rata-rata sekitar 15 tahun, mereka menjalani penilaian terhadap suasana hati dan ketakutan. Pemeriksaan gangguan suasana hati dan kecemasan juga dilakukan kembali dua tahun kemudian.
Dari 204 anak, 41 orang atau sekitar satu dari lima kemudian mendapatkan diagnosis gangguan kesehatan mental.
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah perbedaan antara penilaian pengalaman buruk dan pola bahasa.
Penilaian ahli terhadap tingkat kesulitan yang dialami anak, ditambah faktor demografis, hanya menjelaskan sekitar 7 persen perbedaan gejala kesehatan mental di kemudian hari.
Sementara itu, kategori kata yang digunakan anak mampu menjelaskan 16,2 persen variasi tersebut.
Model kedua yang menganalisis struktur dan makna kalimat menjelaskan sekitar 15,6 persen variasi.
Kedua model tersebut juga diuji menggunakan wawancara yang sebelumnya belum pernah dilihat sehingga tidak hanya mengandalkan data yang sudah digunakan untuk membangun model.
Namun, hasil tersebut tidak berarti pola bahasa dapat memastikan seorang anak akan mengalami depresi atau kecemasan.
Peneliti kemudian mencoba memahami apa yang sebenarnya ditangkap oleh model tersebut.
Kalimat yang dikategorikan memiliki prediksi risiko lebih tinggi antara lain berkaitan dengan pengalaman seperti perkelahian, kekerasan, perundungan, seseorang yang berteriak, hingga perasaan seluruh sekolah berbalik melawan seorang anak.
Sebaliknya, kalimat yang berkaitan dengan risiko lebih rendah banyak membicarakan aktivitas seperti balet, sepak bola, klub pekerjaan rumah, klub buku, dan taman.
Menurut Antonacci, pola tersebut menunjukkan bahwa model kemungkinan tidak sekadar menemukan hubungan statistik secara acak, tetapi menangkap informasi yang memang berkaitan dengan pengalaman anak.
Para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian ini masih berada pada tahap awal.
Studi tersebut tidak membuktikan bahwa pola bahasa menyebabkan depresi atau kecemasan. Selain itu, wawancara dilakukan dalam situasi penelitian, bukan percakapan sehari-hari antara anak dengan orang tua atau teman.
Penelitian juga melibatkan kelompok anak yang relatif terbatas. Anak yang sebelumnya telah memiliki diagnosis kesehatan mental atau kondisi medis serius telah disaring dari penelitian.
Karena itu, hasil ini belum dapat digunakan sebagai semacam checklist bagi orang tua untuk menentukan apakah seorang anak berisiko mengalami gangguan mental.
Antonacci menegaskan bahwa orang tua yang memiliki kekhawatiran terhadap kondisi anak tetap sebaiknya membicarakannya dengan tenaga profesional.
Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan, temuan tersebut membuka kemungkinan penggunaan analisis bahasa untuk membantu tenaga profesional mengenali tanda risiko lebih awal.
Para peneliti ingin menguji metode ini pada kelompok anak yang lebih besar dan lebih beragam. Langkah berikutnya juga harus membuktikan apakah identifikasi risiko sejak dini benar-benar dapat membantu anak mendapatkan dukungan yang lebih baik.
Ada pula persoalan penting mengenai privasi dan risiko pelabelan. Anak yang memiliki pola bahasa tertentu belum tentu mengalami gangguan mental, sementara anak yang kemudian mengalami masalah belum tentu menunjukkan pola bahasa tersebut dalam penelitian.
Ian Gotlib bahkan melihat kemungkinan bahwa rekaman percakapan anak suatu hari dapat dianalisis untuk mengidentifikasi risiko beberapa tahun sebelum gangguan berkembang.
Namun, kemungkinan tersebut masih harus diuji secara ketat sebelum teknologi semacam itu dapat diterapkan di sekolah, klinik, atau perangkat pribadi.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health. (*)
Sumber: Earth