Jum'at, 31/07/2026 15:11 WIB
Beijing, Jurnas.com - Presiden China Xi Jinping mendesak jajaran pimpinan senior Partai Komunis pada Jumat (31/7) untuk memperdalam perlawanan terhadap korupsi di tubuh militer, sekaligus mempercepat modernisasi pertahanan nasional.
"Laras senjata harus selalu mematuhi perintah partai," tegas Xi saat menghadiri sesi diskusi kelompok Politbiro, badan pembuat keputusan tertinggi di China, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.
Dia juga menyerukan pembentukan sistem militer berbasis kecerdasan buatan, termasuk peningkatan penggunaan teknologi tanpa awak (unmanned) serta optimalisasi sistem informasi siber secara lebih mendalam.
Xi menekankan bahwa dalam mendorong modernisasi pertahanan nasional dan angkatan bersenjata yang berkualitas tinggi, orientasi mendasar dan standar evaluasi utamanya adalah efektivitas tempur.
Badai Mematikan Hantam China, Sejumlah Provinsi Lumpuh
Tiba di Pyongyang, Presiden Xi Jinping Puji Hubungan China-Korut
Xi Dijadwalkan Bertemu dengan Kim Jong Un dalam Waktu Dekat
Dikutip dari Reuters, pernyataan Xi dan penyelenggaraan sesi Politbiro ini berlangsung menjelang peringatan hari jadi ke-99 Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang jatuh pada Sabtu (1/8) besok.
Meski sejumlah analis pertahanan dan atase militer menilai peringatan tahun ini diperkirakan berlangsung relatif sederhana, momen ini secara efektif menjadi sorotan menuju peringatan satu abad PLA, tahun Partai Komunis mendesak peningkatan kemajuan dalam modernisasi militer dan kesiapan tempur China.
Peringatan hari jadi ini berlangsung di tengah gelombang pembersihan kasus korupsi di tubuh militer. Laporan dari pusat riset pertahanan terkemuka asal London, Independent Institute of Strategic Studies, pada Februari lalu menyebutkan bahwa aksi pembersihan tersebut sempat menghambat kesiapan tempur dan meninggalkan celah serius pada struktur komando PLA.
Tahun lalu, Pentagon menyatakan militer AS percaya pimpinan China menginginkan angkatan bersenjatanya siap memenangkan konflik atas Taiwan pada 2027.
Namun, penilaian terbaru dari komunitas intelijen AS menyebutkan bahwa Beijing saat ini tidak berencana menginvasi Taiwan pada 2027, dan lebih memilih untuk menguasai pulau tersebut tanpa penggunaan kekuatan militer.
China menganggap Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya sendiri dan tidak pernah melepas hak untuk menggunakan kekuatan militer guna menguasainya, termasuk dengan rutin mengerahkan kapal perang dan pesawat militer di sekitar pulau tersebut setiap hari.