Selasa, 28/07/2026 23:46 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Selama ini banyak yang mengira hutan di wilayah yang mengalami pemanasan paling cepat akan semakin efektif menyerap karbon dioksida (CO₂) dan membantu memperlambat perubahan iklim. Namun, penelitian terbaru justru menemukan fakta yang berlawanan.
Studi yang dipimpin Irina Melnikova dari University of Tsukuba mengungkap bahwa kemampuan hutan menyerap karbon ternyata lebih ditentukan oleh kualitas dan produktivitas hutannya, bukan seberapa cepat suhu di wilayah tersebut meningkat.
Dikutip dari Earth, penelitian ini berfokus pada kawasan Eurasia Utara yang mencakup sekitar seperlima hutan dunia.
Kawasan tersebut selama ini berperan besar dalam menyerap karbon dari atmosfer, dengan kontribusi sekitar 0,47 miliar ton karbon setiap tahun sepanjang periode 2001–2015 atau hampir sepertiga dari total penyerap karbon daratan di dunia.
Ilmuwan Peringatkan Kerusakan Great Barrier Reef Terancam Meluas
Baleg Setujui Harmonisasi RUU Kehutanan, Partisipasi Masyarakat Dipertegas
Perubahan Iklim Bikin Penyakit Air Berubah, Risiko Kolera-Salmonel Naik
Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, para peneliti menggabungkan berbagai sumber data, mulai dari citra satelit, model inversi atmosfer, model vegetasi dinamis, hingga Earth System Models. Meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda, seluruh metode menghasilkan pola yang hampir sama.
Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah yang menjadi penyerap karbon paling kuat justru berada di bagian barat dan selatan Eurasia Utara, bukan di kawasan timur laut yang mengalami laju pemanasan paling cepat di Bumi.
Kemampuan penyerapan karbon meningkat hingga mencapai titik optimal pada wilayah dengan suhu rata-rata di atas titik beku dan tingkat pemanasan sekitar 1,2 hingga 1,5 derajat Celsius. Setelah melewati kisaran tersebut, tambahan pemanasan tidak lagi meningkatkan kemampuan hutan menyerap karbon.
Di wilayah timur laut Eurasia, yang mengalami pemanasan paling cepat, kemampuan menyerap karbon justru jauh lebih rendah. Peneliti menemukan beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.
Hutan di kawasan tersebut umumnya memiliki produktivitas yang lebih rendah, lebih sering dilanda kebakaran hutan, serta didominasi pepohonan yang lebih tua dengan volume kayu lebih sedikit. Kondisi ini membuat kapasitas penyimpanan karbon tidak sebesar kawasan lain.
Selain itu, sebagian besar peningkatan suhu terjadi pada musim dingin ketika tanah masih membeku. Dalam kondisi tersebut, tanaman tidak dapat meningkatkan proses fotosintesis meskipun suhu udara naik.
Di saat yang sama, kenaikan suhu justru mempercepat aktivitas mikroorganisme tanah yang melepaskan karbon ke atmosfer. Pencairan lapisan tanah beku permanen (permafrost) juga ikut meningkatkan pelepasan karbon sehingga mengurangi manfaat tambahan dari pertumbuhan vegetasi.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kualitas hutan yang dalam ilmu kehutanan dikenal sebagai bonitet, yaitu ukuran produktivitas suatu kawasan hutan berdasarkan tinggi pohon, volume kayu, biomassa, hingga kondisi tanah.
Hutan dengan nilai bonitet tinggi terbukti menjadi penyumbang utama penyerapan karbon di Eurasia Utara. Sebaliknya, hutan dengan kualitas rendah hanya memberikan respons kecil terhadap kenaikan suhu meskipun berada di wilayah yang mengalami pemanasan paling cepat.
Temuan tersebut membalik anggapan bahwa peningkatan suhu otomatis membuat hutan bekerja lebih efektif menyerap karbon. Menurut para peneliti, memperbaiki kondisi dan produktivitas hutan jauh lebih penting dibanding hanya melihat besarnya kenaikan suhu.
Artinya, keberhasilan hutan dalam membantu menahan laju perubahan iklim pada masa depan akan sangat bergantung pada kualitas ekosistemnya, bukan semata-mata pada wilayah mana yang mengalami pemanasan paling cepat. (*)
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Global Biochemical Cycles.
Sumber: Earth