Jum'at, 24/07/2026 10:10 WIB
Pekanbaru, Jurnas.com - Tanoto Foundation menyelenggarakan Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 bertajuk `Learn & Lead: Rooted in Purpose, Growing for Impact`, yang berlangsung di Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerici, Riau, pada 23-25 Juli 2026.
Kegiatan yang diikuti 240 penerima beasiswa program TELADAN ini bertujuan mengembangkan mahasiswa yang tidak hanya berprestasi akademik, namun juga memiliki skill kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi, dan mampu menciptakan solusi atas berbagai tantangan.
Forum tahunan ini juga menjadi ajang pertemuan satu angkatan Tanoto Scholars dari 10 perguruan mitra, sekaligus transisi mereka dari fase Lead Self menuju Lead Others, denggan harapan mampu berkolaborasi dan menciptakan damak bagi orang lain.
Chief Operating Officer APRIL, Eduward Ginting, membuka rangkaian acara dengan mengingatkan para peserta untuk terus kuat dalam nilai dan tujuan, agar mampu bertumbuh, belajar, dan berkolaborasi.
Ini 3 Resep Jitu Kampus Tak Terjebak dengan Fenomena AI
Wamen Stella Sarankan Mahasiswa Hindari Kampus Khusus AI, Kenapa?
Menaker Ajak Tanoto Scholars Tanamkan Growth Mindset agar Sukses
"Tanoto Scholars disiapkan untuk memiliki modal yang kuat, semangat belajar yang kuat, kepedulian terhadap masyarakat dan keberanian menciptakan perubahan," ujar Eduward pada Kamis (23/7).
"Saya juga mengajak Tanoto Scholars bekerja dengan integritas dan berkontribusi dengan hati. Agar tidak hanya menjadi pemimpin cerdas, tapi juga peduli dan bertanggung jawab," dia menambahkan.
Hal senada disampaikan Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry. Dia menekankan kepada Tanoto Scholar bahwa untuk menjadi pemimpin yang bermakna selalu berawal dari tujuan yang jelas, diwujudkan melalui pilihan-pilihan sehari-hari, dan pada akhirnya menghasilkan dampak bagi sesama.
"Adik-adik Tanoto Scholar harus ingat, kepemimpinan yang bermakna tidak lahir secara instan. Kepemimpinan dibangun dari pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan secara konsisten: pilihan untuk mendengarkan, pilihan untuk belajar, dan pilihan untuk melakukan hal yang benar, bahkan ketika pilihan itu tidak mudah," kata Eddy.
Dalam salah satu rangkaian TSG 2026, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengajak generasi muda untuk menanamkan pola pikir berkembang (growth mindset), sebagai bekal menjadi pemimpin muda yang mampu menjawab tantangan di masa depan.
"Inovasi tidak selalu soal menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tapi bisa juga tentang memunculkan nilai atau dampak yang baru, pada sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Bahkan, inovasi bisa lahir dari sebuah masalah. Maka, mulailah dari masalah nyata dan dekat dengan kalian untuk diperbaiki," kata Menaker.
Pembicara lainnya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengingatkan para mahasiswa mengenai pentingnya terus berkembang di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut dia, meskipun AI telah melakukan penetrasi di berbagai bidang, para Tanoto Scholars sebagai calon pemimpin masa depan, mesti membekali diri dengan soft skill yang tidak dapat dikerjakan oleh AI.
"AI dapat menyajikan jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, manusialah yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Itulah kompetensi yang harus dibangun oleh pemimpin muda," ujar Wamen Stella.
Selama rangkaian TSG 2026, para peserta melakukan berbagai kegiatan, di antaranya: Bincang inspiratif bersama unsur pemerintah, pendidikan tinggi, dan budaya; Kunjungan industri; Outbound dan Team Building, dan; Masterclass `From Purpose to Measurable Impact`.