Senin, 20/07/2026 11:49 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim ternyata tidak hanya memicu cuaca ekstrem, banjir, dan kekeringan. Penelitian terbaru mengungkap pemanasan global juga mengubah pola penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air, termasuk kolera, salmonella, hingga berbagai virus penyebab diare.
Temuan menariknya, dampak perubahan iklim tidak berlaku sama pada semua jenis penyakit. Saat suhu yang lebih hangat membuat sejumlah bakteri semakin mudah berkembang, beberapa virus justru diperkirakan akan lebih sulit bertahan karena lebih menyukai kondisi dingin dan kering.
Dikutip dari Earth, tim peneliti ini dipimpin oleh Profesor Karen Levy dari University of Washington. Tim peneliti meninjau puluhan tahun hasil penelitian mengenai berbagai mikroorganisme penyebab penyakit yang menyebar melalui air yang tercemar limbah manusia maupun hewan.
Mereka menemukan bahwa setiap patogen memiliki respons berbeda terhadap perubahan iklim. Bakteri seperti Vibrio cholerae, penyebab kolera, cenderung berkembang lebih cepat di perairan yang hangat dan sedikit asin.
Kenaikan Suhu Panas Global Diprediksi Picu Lonjakan Bunuh Diri pada 2050
Juni 2026 Jadi Bulan Terpanas di Eropa Barat
Studi Ungkap Mikroplastik Perparah Pemanasan Bumi Setara 200 PLTU Batu Bara
Sebaliknya, virus seperti norovirus, rotavirus, dan adenovirus lebih mudah menyebar saat cuaca dingin dan kering sehingga risikonya diperkirakan dapat menurun seiring memendeknya musim dingin di sejumlah wilayah.
Analisis yang dikaji peneliti juga menunjukkan infeksi bakteri saluran pencernaan umumnya meningkat ketika suhu naik, sedangkan infeksi akibat virus cenderung menurun.
Salah satu temuan penting menunjukkan risiko infeksi Salmonella meningkat sekitar 5 persen setiap kenaikan suhu sekitar 1 derajat Celsius.
Curah hujan ekstrem dan banjir menjadi salah satu jalur utama penyebaran penyakit bawaan air.
Saat hujan deras melampaui kapasitas drainase, limbah manusia maupun hewan dapat terbawa ke sungai, sumur, hingga sumber air bersih yang digunakan masyarakat. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran bakteri, virus, maupun parasit penyebab diare.
Salah satu contoh terbesar terjadi di Milwaukee, Amerika Serikat, pada 1993. Ketika itu, parasit Cryptosporidium berhasil melewati instalasi pengolahan air setelah limpasan hujan mencemari sumber air baku.
Wabah tersebut diperkirakan menyebabkan sekitar 400.000 orang jatuh sakit dan menjadi salah satu wabah penyakit bawaan air terbesar yang pernah tercatat di Amerika Serikat.
Namun, peneliti menegaskan hubungan antara hujan dan penyebaran penyakit tidak selalu sederhana.
Hujan deras setelah periode kemarau justru berisiko lebih tinggi karena membawa limbah yang menumpuk ke sumber air. Sebaliknya, hujan yang turun ketika kondisi sudah basah dalam beberapa kasus dapat mengencerkan konsentrasi patogen sehingga menurunkan risiko penularan.
Risiko penyakit tidak hanya meningkat saat banjir, tetapi juga ketika kekeringan terjadi.
Saat sumber air mulai mengering, banyak masyarakat terpaksa menggunakan air dari sumber yang kualitasnya kurang baik, menyimpan air lebih lama, dan mengurangi penggunaan air untuk menjaga kebersihan.
Penelitian terhadap anak-anak di berbagai negara berpendapatan rendah dan menengah menunjukkan bahwa kekeringan selama enam bulan berkaitan dengan peningkatan risiko diare sekitar 5 hingga 8 persen.
Risiko terbesar ditemukan pada wilayah yang memiliki akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi.
Di daerah pesisir, kenaikan muka air laut juga menjadi ancaman baru. Air laut yang meresap ke sumber air tawar meningkatkan kadar garam sehingga menciptakan lingkungan yang lebih sesuai bagi bakteri kolera untuk berkembang. Fenomena ini telah diamati di sejumlah wilayah pesisir Bangladesh.
Peneliti menilai berbagai solusi untuk mengurangi risiko penyakit bawaan air sebenarnya sudah tersedia. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menyesuaikan strategi dengan perubahan iklim yang terus berlangsung.
Penguatan sistem air bersih dan sanitasi menjadi langkah paling penting agar limbah tidak mencemari sumber air, bahkan ketika banjir atau cuaca ekstrem terjadi.
Selain itu, sistem pemantauan penyakit juga perlu diperkuat agar petugas kesehatan dapat mengidentifikasi patogen yang sedang menyebar dan menentukan langkah penanganan yang paling tepat.
Vaksin untuk beberapa penyakit bawaan air, seperti kolera, rotavirus, tifoid, dan hepatitis A, juga tetap menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Namun, distribusinya harus mampu menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang dapat mengganggu rantai pendingin vaksin.
Profesor Elizabeth Carlton dari Colorado School of Public Health mengatakan perubahan iklim telah mengubah cara berbagai penyakit menyebar.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi menemukan teknologi baru, melainkan memastikan sistem air bersih, pemantauan penyakit, dan program vaksinasi mampu beradaptasi dengan kondisi iklim yang terus berubah.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar meningkatkan risiko penyakit, tetapi juga mengubah jenis penyakit yang paling mengancam setiap wilayah. Karena itu, strategi kesehatan masyarakat tidak lagi bisa disamaratakan, melainkan harus disesuaikan dengan ancaman penyakit yang paling berpotensi muncul di masing-masing daerah. (*)
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Reviews Microbiology.
Sumber: earth