Komisi X DPR Dorong BRIN Maksimalkan Pendanaan Riset dari Luar Negeri

Kamis, 16/07/2026 22:07 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengoptimalkan pemanfaatan pinjaman dan hibah luar negeri untuk memperkuat pendanaan riset nasional.

Menurutnya, dukungan pendanaan tersebut harus diarahkan pada agenda riset prioritas agar mampu menghasilkan inovasi yang berdampak bagi pembangunan.

Hal itu disampaikan Ledia dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR RI dengan Kepala BRIN terkait pembahasan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) APBN Tahun Anggaran 2025 di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7).

Ledia menilai, peluang pendanaan dari luar negeri perlu dimanfaatkan secara maksimal mengingat dana abadi riset Indonesia masih terbatas, sementara kebutuhan pembiayaan penelitian terus meningkat.

“Kalau saya melihat sebenarnya pinjaman luar negeri dan hibah luar negeri itu adalah peluang besar kita, karena dana abadi riset kita tidak besar. Padahal banyak riset yang diselenggarakan, banyak peneliti-peneliti yang kompeten ada di BRIN,” kata Ledia.

Politikus PKS itu mengungkapkan, berdasarkan paparan BRIN masih terdapat dana pinjaman dan hibah luar negeri yang mengalami pemblokiran. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dievaluasi agar tidak menghambat pelaksanaan program-program riset strategis.

Karena itu, Ledia mengusulkan agar BRIN menyusun mekanisme yang mengaitkan setiap pendanaan luar negeri dengan prioritas riset yang telah ditetapkan dalam Rencana Induk Riset Nasional.

“Bisakah kita kemudian mendesain sehingga ketika dapat pinjaman atau hibah luar negeri ini ada prioritas riset apa yang sesuai dengan rencana induk riset. Jadi modelnya bukan sekadar ada pinjaman, ada hibah, tapi kemudian diblokir. Kan sayang, padahal banyak yang seharusnya bisa diakses,” ujarnya.

Selain memperkuat pendanaan, Ledia juga menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset. Menurutnya, penelitian yang telah selesai seharusnya tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi melalui proses komersialisasi.

“Ketika kemudian riset itu jadi, selesai, kan dia juga bisa dikomersialkan. Artinya mungkin bisa membiayai dirinya sendiri untuk membayar pinjaman itu, bahkan melanjutkan riset berikutnya,” tuturnya.

Ledia berharap evaluasi pelaksanaan anggaran 2025 menjadi momentum bagi BRIN untuk menyusun strategi pendanaan riset yang lebih terarah. Dengan demikian, sumber pembiayaan dari dalam maupun luar negeri dapat dimanfaatkan secara optimal guna menghasilkan inovasi yang mendukung kebutuhan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, sinergi antara perencanaan riset, dukungan pendanaan, dan hilirisasi hasil penelitian menjadi kunci agar investasi negara di sektor riset mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat maupun pembangunan nasional.

 

 

 

TERKINI
17 Juli 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini Iran Kutuk Serangan AS yang Hampir Kenai RS Kanker Anak India Larang Warganya Bekerja di Kapal yang Melalui Selat Hormuz Benny Harman Ingin RUU Masyarakat Adat Akhiri Pendekatan Keamanan