Senin, 13/07/2026 15:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia tengah mengevaluasi rencana penambahan kuota beasiswa bagi mahasiswa asal Indonesia melalui skema Malaysia International Scholarship (MIS).
Ketua Setiausaha Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia Datuk Dr. Aminuddin bin Hassim mengatakan, langkah ini diambil menyusul tingginya potensi akademik serta besarnya rasio populasi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
"Indonesia memiliki populasi sekitar 270 juta jiwa, jauh lebih besar dibandingkan Malaysia yang hanya 32 juta jiwa. Jumlah mahasiswanya tentu jauh lebih banyak, sehingga kami melihat adanya keperluan untuk menambah lagi kuota tempat tersebut," ujar Datuk Aminuddin kepada Jurnas.com, Senin (13/7).
Namun untuk saat ini, lanjut dia, Pemerintah Malaysia menyediakan sebanyak 100 kuota beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 melalui skema MIS.
Intip Estimasi Biaya Kuliah di Malaysia, Kamu Tertarik?
Perkuat Kolaborasi Pendidikan, 28 Kampus Malaysia Bidik Pelajar RI
Minat Kuliah di Kampus Unggulan Malaysia? Cek Harganya
"Kami menawarkan 100 kuota dengan sistem siapa cepat dia dapat (first come, first served). Program itu sudah berjalan," ujarnya.
Meski begitu, ia menuturkan bahwa beasiswa kuliah ini masih difokuskan untuk jenjang pascasarjana, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dibuka bagi pemohon beasiswa di jenjang sarjana (S1).
"Contohnya melihat latar belakang keluarga mereka, bidang studi yang ingin kita dorong, dan sebagainya. Tetapi, rekomendasi dari pihak pemerintah, termasuk Pemerintah Indonesia juga sangat diperlukan. Sebab, kami khawatir mereka juga menerima beasiswa ganda dari pemerintah di sini," tuturnya.
Lebih lanjut Aminuddin menjelaskan bahwa komitmen ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) bidang pendidikan yang telah ditandatangani oleh Indonesia dan Malaysia sebelumnya.
Meski saat ini pembiayaan beasiswa LPDP Indonesia difokuskan pada bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM), Aminuddin menekan bahwa Malaysia tetap terbuka bagi pelamar dari rumpun ilmu sosial, kebudayaan, dan sastra.
"Kami sangat menyambut baik mereka yang terlibat di bidang teknologi, STEM, dan TVET (pendidikan vokasi:Red). Namun, bukan berarti jika mereka datang dari latar belakang ilmu sosial dan humaniora, lalu kita tolak," ujar dia.
Aminuddin juga mengatakan bahwa saat ini pihaknya berencana memperdalam MoU telah berjalan dengan Pemerintah Indoneisa dengan merinci bidang-bidang strategis yang lebih sesuai.
"Bidang-bidang tersebut dalam MoU mencakup jalur pengembangan bakat yang lebih jelas. Contohnya, kami memberikan berbagai kemudahan proses. Kemudian kerja sama di bidang STEM untuk memperkukuh sektor ekonomi," kata Aminuddin.
"Selanjutnya, penguatan kapasitas institusi dan kepemimpinan pendidikan. Contohnya melalui program pertukaran (exchange), magang (internship), dan sebagainya," ujarnya menambahkan.