Kisah Alumnus UGM Jembatani UMKM Lokal Tembus Pasar China

Rabu, 08/07/2026 20:56 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Bagi sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia, menembus pasar internasional sering kali terasa seperti mimpi yang terlampau tinggi.

Langkah pelaku usaha tersebut kerap terbentur oleh rumitnya birokrasi, kendala bahasa, hingga terbatasnya pemahaman terhadap peta kompetisi global.

Di tengah tantangan tersebut, alumnus Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Assed Lussak, coba hadir dengan membawa semangat baru bagi UMKM lokal dengan mendirikan perusahaan konsultan Next Step.

Baginya, ada ruang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku usaha di dalam negeri untuk bisa menembus pasar ekspor, terutama ke China. Karenanya, dia bermimpi bisa melakukan mobilisasi UMKM lokal melakukan `serangan balik` ke pasar negara tersebut.

“Saya melihat ada potensi raksasa yang belum tergarap optimal oleh para pelaku usaha lokal karena kurangnya keberanian serta minimnya akses informasi untuk melangkah keluar dari zona nyaman pasar domestik,” ujar Assed.

Di sinilah Next Step coba menjalankan peran. Selain membantu para trader di Indonesia memperoleh barang dari China, mantan penerima beasiswa Tanoto Foundation itu juga menjalankan peran sebagai fasilitator bagi UMKM Indonesia yang ingin mengeksplorasi pasar negara tersebut yang memang sangat potensial karena negara ini punya penduduk 1,4 miliar jiwa.

Untuk merealisasikannya, Next Step menempuh sejumlah strategi. Di tahap awal, perusahaan konsultan besutannya ini melakukan pendampingan, yang dilanjutkan dengan business matching lewat penyediaan informasi pasar yang bisa digarap oleh UMKM Indonesia.

Pada saat yang sama, Assed juga terlibat secara aktif melakukan kurasi atas produk-produk potensial khas Indonesia untuk bersaing di China. Produk yang dimaksud di antaranya komoditas, furnitur, hingga industri kreatif lokal.

“Kami melakukan pendampingan ini mulai dari tahap pengenalan pasar, analisis potensi produk, hingga peninjauan dokumen kerja sama legal seperti Letter of Agreement (LOA) dan Letter of Intent (LOI),” Assed menambahkan.

Meski jumlah UMKM lokal yang berhasil dimobilisasi belum masif, namun langkah kecil tersebut perlahan-lahan mampu membuka mata pelaku usaha lokal mau melirik market di Negeri Tirai Bambu.

Hingga saat ini, tak kurang dari 10 pelaku usaha skala menengah dari Indonesia yang telah berhasil difasilitasi dengan nilai transaksi masing-masing pelaku bisnis yang difasilitasi tersebut mencapai di atas Rp1 miliar per bulan.

Melalui langkah tersebut, Assed ingin membuktikan bahwa UMKM Indonesia pun bisa melakukan ekspor ke negara yang selama ini produk impornya membanjiri pasaran nasional.

Demi menyukseskan misi besar tersebut, Next Step bahkan mendirikan kantor perwakilan resmi di Shanghai. Langkah berani ini diambil untuk memastikan bahwa UMKM Indonesia memiliki jangkar dan representasi yang kuat di jantung perekonomian China.

Bagi Assed, konektivitas Indonesia dan China tidak hanya soal barang atau transaksi dagang. Dalam perjalanannya mendampingi pelaku usaha, ia juga melihat bahwa akses terhadap pengalaman global perlu dibuka lebih luas, terutama bagi generasi muda Indonesia. Dari sinilah Next Step kemudian mengembangkan layanan di bidang pendidikan.

Karena itulah, Next Step melebarkan sayapnya sebagai konsultan pendidikan end-to-end yang secara khusus memperkenalkan dan memfasilitasi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di berbagai kampus terbaik di China, baik untuk jenjang S1, S2, maupun S3, di antaranya Beijing Institute of Technology, Tianjin University, Beijing Language and Cultural University, dan lainnya.

Di sini, Next Step memfasilitasi pengusaha dan pelajar yang sebagian besar berusia muda. Untuk pengusaha, klien Next Step biasanya mengajak second generation atau calon penerus bisnis mereka untuk ikut business trip.

“Dengan menyediakan layanan menyeluruh mulai dari konsultasi pemilihan jurusan, pencarian beasiswa, hingga proses pendaftaran. Karena kami melihat banyak calon mahasiswa dan keluarga membutuhkan proses yang lebih terarah dan mudah dipahami,” kata dia.

Perhatian Assed terhadap akses pendidikan juga dekat dengan pengalaman pribadinya. Sebelum membantu pelajar Indonesia mencari peluang studi di luar negeri, dia sendiri pernah merasakan bahwa dukungan pendidikan dapat membuka ruang bagi anak muda untuk berkembang.

Saat kuliah di Hubungan Internasional Fisipol UGM tahun 2009, dia pernah meraih beasiswa National Champion Scholarship dari Tanoto Foundation.

Dia mengakui, hal itu menjadi milestone penting karena memungkinkan dia bebas dari keharusan bekerja sampingan. Sehingga, dia memiliki waktu yang longgar untuk aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan lintas kampus.

Saat memasuki dunia kerja, Assed malang melintang di perusahaan yang bergerak di bidang consulting, baik perusahaan konsultan bisnis maupun komunikasi.

Pada rentang 2011-2014, dia mendampingi klien yang bergerak di bidang kepelabuhanan dan sering melakukan perjalanan ke luar Jawa. Di situ, dia melihat secara langsung ketimpangan kehidupan pada masyarakat yang tinggal di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

“Begitu jomplang jika dibandingkan dengan kehidupan di kota-kota besar di Jawa,” ujar dia.

Dari situlah, Assed tergerak untuk menjalankan misi sosial bergabung dengan Yayasan Tunas Bakti Nusantara pada tahun 2017. Lembaga ini didirikan oleh para alumni SMA Taruna Nusantara yang bergerak di bidang pemberdayaan sosial dan ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia.

Kegiatan yayasan merangkul banyak anak muda Indonesia dari berbagai daerah, termasuk luar negeri. Sasaran utama kegiatan yayasan juga adalah agar anak-anak dan kaum muda memiliki optimisme untuk bercita-cita tinggi dan berkembang-berdampak untuk masyarakat sekitar.

Bersama yayasan ini, Assed mendedikasikan sebagian waktunya untuk menjalankan misi sosial di berbagai wilayah. Salah satu wilayah yang menjadi fokus menjalankan proyek sosial di wilayah Poso Sulawesi Tengah yang sebelumnya pernah dilanda konflik sosial. Di wilayah ini, Assed dan rekan-rekannya membangun berbagai fasilitas sosial serta program lainnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

“Ada pengalaman unik juga ketika kami menjalankan program di NTB. Program utama kami sebenarnya adalah mendirikan fasilitas layanan kesehatan karena ini program kolaborasi antara yayasan dengan Kemenkes. Namun dalam perjalanannya, kami juga diminta untuk mendamaikan dua desa yang selama bertahun-tahun saling bermusuhan,” kata dia.

Dari perjalanannya bekerja di perusahaan konsultan, mendirikan dan menjalankan Next Step, hingga aktif menjalankan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, Assed melihat bahwa peran anak-anak muda begitu krusial agar potensi yang dimiliki Indonesia bisa termanfaatkan dengan baik.

Baginya, anak-anak muda yang kreatif dan inovatif, memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak menuju perubahan yang lebih inklusif dan merata.

TERKINI
Legislator PKS: Program Kemah Bela Negara Perkuat Semangat Kebangsaan RSPI Pastikan Tak Ada Diskriminasi Layanan BPJS Kesehatan RSPI Sulianti Saroso Perluas Layanan, Tak Hanya Layani Penyakit Infeksi Erdogan Desak Sekutu NATO Cabut Pembatasan Industri Pertahanan