Selasa, 07/07/2026 15:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Nama "Jakarta" hari ini melekat sebagai identitas megapolitan yang modern dan dinamis.
Namun, jauh sebelum hutan beton dan jaringan transportasi terintegrasi memenuhi lanskapnya, kota ini pernah dikunci oleh sebuah nama kolonial selama lebih dari tiga abad, Batavia.
Dihimpun dari berbagai sumber, sebelum berganti nama menjadi Batavia, kawasan di muara Sungai Ciliwung ini bernama Jayakarta, sebuah kota pelabuhan yang makmur di bawah kendali Kesultanan Banten.
Ketegangan geopolitik memuncak ketika kongsi dagang Hindia Timur Belanda (VOC) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, mulai membangun benteng batu (loge) pertahanan tanpa izin yang sah dari penguasa lokal.
Mengenal Filosofi dan Fakta Menarik Rumah Adat Betawi
Kisah di Balik Rancang Bangun Monumen Nasional
Sejarah Perkembangan Blok M dari Masa ke Masa
Puncaknya terjadi pada akhir Mei 1619. Coen memimpin serangan militer agresif yang membumihanguskan seluruh pemukiman penduduk dan istana Jayakarta. Di atas puing-puing kota yang telah menjadi arang itulah, Coen merancang cetak biru sebuah kota baru yang sepenuhnya bercorak Eropa.
Setelah berhasil meratakan Jayakarta, Jan Pieterszoon Coen sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk menamai kota baru tersebut dengan nama Nieuw Hoorn (Hoorn Baru).
Nama ini dipilih sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengobat rindu Coen terhadap kota kelahirannya, Hoorn, sebuah kota pelabuhan kecil di Belanda Utara.
Namun, ambisi pribadi Coen berbenturan dengan kebijakan korporat. Dewan Tujuh Belas (Heeren XVII) selaku pemegang kendali tertinggi VOC di Belanda menolak usulan tersebut. Mereka justru menetapkan nama Batavia secara resmi pada Maret 1621.
Kata "Batavia" diambil dari nama Batavi, sebuah suku kuno Germanic yang mendiami wilayah muara Sungai Rhein pada masa Kekaisaran Romawi.
Dalam mitologi sejarah Belanda, suku Batavi dipuja sebagai leluhur bangsa Belanda yang memiliki karakter pemberani, tangguh, dan menjunjung tinggi kebebasan.
Bagi Heeren XVII, menyematkan nama Batavia di tanah jajahan baru merupakan upaya simbolis untuk menegaskan identitas nasional dan legitimasi moral mereka di seberang samudra.
Setelah nama ditetapkan, VOC tidak hanya membawa identitas nama, tetapi juga memindahkan arsitektur fisik Belanda ke tanah Jawa.
Batavia dibangun menyerupai kota-kota di Belanda, lengkap dengan jaringan kanal (gracht) yang membelah pemukiman, dinding-dinding kastil yang masif, dan rumah-rumah beratap tinggi dengan jendela besar.
Langkah ini belakangan menjadi blunder ekologis yang fatal. Karakter kanal Belanda yang berfungsi baik di iklim Eropa Barat, justru menjadi sarang penyakit malaria dan disentri ketika diterapkan di iklim tropis Jawa yang lembap.
Air kanal yang dangkal dan tidak mengalir lancar akibat sedimentasi lumpur Ciliwung mengubah Batavia dari kota impian (Koniningin van het Oosten / Ratu dari Timur) menjadi kuburan massal yang dijuluki Het Kerkhof der Europeanen (Kuburan Orang Eropa).
Nama Batavia terus bertahan melintasi berbagai periode pemerintahan, mulai dari kekuasaan VOC, masa Hindia Belanda di bawah Kerajaan Belanda, hingga masa internum Inggris.
Nama legendaris ini baru resmi ditanggalkan pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942. Demi menghapus segala jejak imperialisme Barat, pemerintah militer Jepang mengembalikan nama kota ini menjadi Jakarta (singkatan dari Djakarta Tokubetsu Shi), sebuah nama yang terus dipertahankan dan disempurnakan pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia hingga saat ini.