Jum'at, 19/06/2026 14:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 10 Muharram atau yang lebih dikenal sebagai Hari Asyura memegang posisi yang sangat sakral dalam lini masa sejarah Islam.
Jauh sebelum peristiwa pilu yang menimpa cucu Rasulullah SAW di Karbala, hari Asyura telah menjadi simbol kemenangan iman atas kezaliman yang nyata.
Jejak sejarah paling monumental pada hari ini adalah diselamatkannya Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil dari kejaran bala tentara Firaun.
Kisah heroik ini bermula ketika Nabi Musa AS menerima wahyu untuk membawa kaum Bani Israil keluar dari belenggu perbudakan di Mesir secara sembunyi-sembunyi pada malam hari.
Deretan Peristiwa Besar dalam Sejarah Islam pada 10 Muharram
8 Kuliner Khas Muharram di Indonesia, Ada Bubur Suro hingga Bubur Asyura
Kapan 10 Muharram 2026? Simak Jadwal hingga Keutamaan Hari Asyura
Mengetahui budak-budaknya melarikan diri, Firaun yang diliputi murka langsung mengerahkan seluruh kekuatan militer terbaiknya untuk melakukan pengejaran.
Pelarian Nabi Musa AS menemui jalan buntu ketika mereka tiba di tepi Laut Merah. Di depan membentang lautan luas yang dalam, sementara di belakang mereka debu berterbangan akibat derap kaki ribuan kuda pasukan Firaun yang siap membantai.
Dalam situasi kritis tersebut, kaum Bani Israil mulai dirundung keputusasaan. Namun, dengan keteguhan tauhid yang menghunjam, Nabi Musa AS menenangkan kaumnya sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur`an: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu`ara: 62).
Tepat pada tanggal 10 Muharram, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya. Melalui perintah-Nya, Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke permukaan air.
Seketika itu juga, Laut Merah terbelah menjadi 12 jalur kering yang kokoh dengan air yang bergulung tinggi di kanan-kirinya seperti gunung.
Nabi Musa AS dan pengikutnya segera menyeberang dengan selamat. Firaun yang buta oleh kesombongan tetap nekat memimpin pasukannya merangsek masuk mengejar ke tengah jalur laut tersebut.
Begitu seluruh pasukan Firaun berada di tengah-tengah laut, Allah SWT mengembalikan ketetapan air laut seperti semula. Ombak raksasa bergulung menjerat mereka, menenggelamkan sang diktator yang sempat mengaku sebagai tuhan itu tanpa sisa.