Rabu, 10/06/2026 12:45 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak adanya kolaborasi global yang masif guna mengerem dampak polusi dan perubahan iklim yang kian merusak ekosistem laut.
Seruan ini menyusul rilis dokumen WOA III yang melibatkan lebih dari 650 ahli, yang menyimpulkan bahwa kombinasi limbah, pemanasan suhu, dan industri perikanan skala besar telah memicu hilangnya keanekaragaman hayati secara luas.
WOA III adalah satu-satunya penilaian terintegrasi global tentang samudra dunia yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Forum itu menilai keadaan samudra dari 2021-2025, dan merupakan upaya kolektif dari tim penulis antar sektor yang terdiri dari lebih dari 650 ahli dari puluhan negara.
PBB Kecam Kematian Anggota Paukan UNIFIL di Lebanon Selatan
Sekjen PBB Beri Tiga Opsi Akhiri Konflik Israel vs Hizbullah
PBB Desak Pembebasan Tahanan dalam Konflik Myanmar
Penilaian tersebut, pada Senin, menggarisbawahi bahwa aktivitas yang disebabkan oleh manusia menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati secara luas dan memberikan "tekanan berat" kepada sistem samudra.
Menurut temuan tersebut, permukaan laut terus naik dengan laju yang semakin meningkat, dari 2 milimeter (0,08 inci) per tahun sebelum 2015 menjadi 4,3 milimeter per tahun pada 2023.
Studi itu juga menemukan bahwa sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 telah terjadi sejak 2018.
"Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya yang tak terbatas. Kolaborasi global yang mendesak diperlukan untuk melindungi ekosistem laut," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Ia menambahkan dunia harus membangun hubungan baru dengan laut yang didasarkan pada sains, dibingkai oleh hukum internasional, dan dibangun atas dasar tanggung jawab bersama di seluruh negara, sektor, dan generasi.
Sumber: Anadolu