Jum'at, 05/06/2026 19:25 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kepulangan jemaah haji Indonesia yang mulai berlangsung sejak 1 Juni 2026 tak hanya menjadi momen haru bagi keluarga yang telah menanti lebih dari 40 hari. Di berbagai daerah, kedatangan para tamu Allah juga disambut dengan tradisi khas yang telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Dari arak-arakan kendaraan di Madura, pembagian air gentong di Cirebon, hingga ritual Peusijuek di Aceh, setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa syukur atas kembalinya jemaah haji ke kampung halaman.
Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya mencerminkan kegembiraan atas selesainya rukun Islam kelima, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai keagamaan berpadu harmonis dengan kearifan lokal Nusantara.
Berikut sejumlah tradisi unik penyambutan jemaah haji yang masih lestari di berbagai daerah Indonesia, yang dihimpun dari berbagai sumber.
Mengintip 7 Tradisi Menyambut Idul Adha di Berbagai Negara
Berbagai Tradisi Unik Sambut Iduladha di Banten
5 Negara dengan Tradisi Sambut Idul Adha Paling Unik di Dunia
Di lingkungan masyarakat Betawi, kepulangan jemaah haji biasanya disambut melalui ratiban atau pembacaan tahlil, dzikir, dan doa bersama yang dilakukan secara kolektif.
Tradisi ini dapat berlangsung beberapa malam berturut-turut sebagai ungkapan syukur atas keselamatan jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Menariknya, terdapat kebiasaan yang mengajarkan agar jemaah tidak terlalu banyak beraktivitas sosial atau bepergian tanpa keperluan penting selama 40 hari setelah pulang haji. Masa ini dipandang sebagai periode menjaga kemurnian spiritual yang diperoleh selama beribadah.
Tak heran jika gelar Pak Haji atau Bu Haji memiliki makna sosial yang kuat dalam masyarakat Betawi sebagai simbol penghormatan dan keteladanan.
Di sejumlah wilayah Cirebon, keluarga jemaah haji kerap menyediakan air minum dalam gentong besar yang dibagikan secara gratis kepada warga maupun pengguna jalan yang melintas.
Tradisi air gentong menjadi simbol sedekah dan rasa syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji. Selain itu, tradisi ini mencerminkan nilai kedermawanan yang erat dengan ajaran Islam.
Bagi masyarakat setempat, berbagi air merupakan lambang harapan agar keberkahan yang diperoleh selama berhaji dapat dirasakan lebih luas oleh lingkungan sekitar.
3. Madura: Asajere, Arak-arakan Meriah Menjemput Tamu AllahJika di daerah lain penyambutan dilakukan secara sederhana, masyarakat Madura memiliki tradisi yang lebih semarak melalui asajere.
Tradisi ini berupa iring-iringan kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengantar jemaah dari bandara atau titik kedatangan menuju kampung halaman.
Sepanjang perjalanan, keluarga dan kerabat turut mengiringi sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan spiritual yang telah dijalani.
Perayaan biasanya berlanjut dengan silaturahmi dan jamuan makan bersama yang dapat berlangsung hingga beberapa pekan setelah kepulangan jemaah.
4. Lombok Timur: Tahlilan dan Tasyakuran KeluargaDi Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tradisi penyambutan haji identik dengan tahlilan dan tasyakuran keluarga.
Kerabat, tetangga, serta tokoh masyarakat berkumpul untuk memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur atas keselamatan jemaah dan diterimanya ibadah haji yang telah ditunaikan.
Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat ikatan sosial dalam komunitas.
5. Kalimantan Tengah: Walimatul Naqiah yang Menyatukan WargaMasyarakat Kalimantan Tengah mengenal tradisi walimatul naqiah, yakni acara syukuran yang digelar setelah jemaah kembali ke rumah.
Acara ini biasanya diisi doa bersama, ceramah keagamaan, dan makan bersama yang melibatkan warga sekitar.
Lebih dari sekadar syukuran, walimatul naqiah menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana kebersamaan dan religiusitas.
6. Makassar: Mappatoppo Talili, Wisuda Spiritual Jemaah HajiSalah satu tradisi paling unik datang dari Makassar melalui prosesi Mappatoppo Talili.
Dalam tradisi ini, jemaah laki-laki akan dipasangkan songkok putih, sedangkan jemaah perempuan diberikan kerudung baru oleh tokoh agama atau keluarga yang dituakan.
Prosesi biasanya diawali dengan sujud syukur dan pembacaan shalawat sebelum simbol-simbol tersebut dikenakan.
Bagi masyarakat Makassar, Mappatoppo Talili bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan penanda bahwa seseorang telah menyelesaikan perjalanan spiritual yang agung dan memasuki fase kehidupan baru dengan tanggung jawab moral yang lebih besar.
7. Aceh: Peusijuek, Perpaduan Islam dan Kearifan LokalDi Aceh, jemaah haji yang pulang umumnya menjalani ritual Peusijuek atau tepung tawar.
Prosesi ini melibatkan taburan beras, penggunaan dedaunan tertentu, doa-doa keselamatan, serta pemberian simbol keberkahan kepada jemaah.
Peusijuek telah lama menjadi bagian dari budaya Aceh dan digunakan dalam berbagai momen penting kehidupan masyarakat.
Dalam konteks penyambutan haji, ritual ini menjadi ungkapan syukur sekaligus doa agar jemaah memperoleh keberkahan dan mampu menjaga kemabruran hajinya setelah kembali ke tengah masyarakat.
Itulah sejumlah tradisi unik dalam menyambut kepulangan jemaah haji di Indonesia. Meski memiliki bentuk yang berbeda-beda, seluruh tradisi penyambutan jemaah haji di Indonesia memiliki pesan yang sama: penghormatan terhadap ibadah yang agung, rasa syukur atas keselamatan jemaah, serta harapan agar mereka pulang membawa keberkahan bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Tradisi-tradisi tersebut juga menunjukkan bahwa ibadah haji tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi memiliki dampak sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, berbagai tradisi lokal ini menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, melainkan peristiwa penting yang menyatukan nilai agama, budaya, dan solidaritas sosial dalam satu momentum yang penuh makna. (*)