Rabu, 27/05/2026 18:50 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Salat Iduladha di halaman Istana Merdeka pada 14 Mei 1962 mendadak berubah menjadi kepanikan. Di tengah ribuan jemaah, tembakan dilepaskan ke arah Soekarno saat rakaat kedua salat berlangsung.
Peristiwa itu menjadi salah satu upaya pembunuhan paling berani terhadap presiden Indonesia. Lokasinya bahkan berada di kawasan yang dianggap paling aman di negeri ini.
Dikutip dari Historia, pagi itu, lapangan antara Istana Negara dan Istana Merdeka dipenuhi pejabat negara, tokoh nasional, dan masyarakat umum. Suasana awalnya berlangsung khidmat hingga suara letusan senjata memecah salat Id.
Target penembakan disebut jelas mengarah kepada Bung Karno. Namun peluru meleset dan justru melukai sejumlah orang di sekitar presiden.
Prabowo: Indonesia Jangan Lagi Jadi Objek Penguasaan Asing
Prabowo Tegaskan APBN Alat Lindungi Rakyat dan Perkuat Ekonomi Bangsa
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Rapat Paripurna DPR Bahas RAPBN 2027
Salah satu korban dalam insiden itu adalah Zainul Arifin. Tokoh Nahdlatul Ulama tersebut terkena tembakan di bagian bahu.
Dua anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP), yakni Soedrajat dan Soesilo, juga terkena peluru saat berupaya melindungi presiden.
Di tengah situasi kacau, Komandan DKP Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo bersama wakilnya Sudiyo langsung mengamankan Bung Karno. Pelaku kemudian berhasil dilumpuhkan anggota DKP lainnya.
Pistol FN 45 yang digunakan pelaku langsung disita. Pelaku disebut sempat babak belur sebelum diamankan di depan Masjid Baiturrahim.
Meski sempat terhenti karena kepanikan, salat Iduladha akhirnya tetap dilanjutkan. Idham Chalid tetap memimpin salat sebagai imam.
Sementara khutbah Iduladha tetap disampaikan oleh A.H. Nasution. Bung Karno sendiri batal memberikan sambutan setelah insiden penembakan tersebut.
Penyelidikan kemudian menemukan fakta bahwa pelaku terhubung dengan kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia pimpinan S.M. Kartosoewirjo.
Tiga nama yang disebut terlibat adalah Sanusi alias Uci Sanusi, Kamil alias Harun bin Karta, dan Jaya Permana alias Hidayat bin Mustafa.
Sanusi disebut sebagai pelaku penembakan. Sementara pelaku lain diduga membawa granat dan senjata yang disembunyikan di area salat.
Sebagian pelaku disebut gagal menjalankan rencana karena ketakutan. Ada pula yang membuang granat ke sungai setelah salat selesai.
Dari total sembilan orang yang terlibat, enam dijatuhi hukuman mati. Tiga lainnya divonis penjara seumur hidup.
Insiden Iduladha 1962 menjadi titik penting dalam sejarah pengamanan presiden Indonesia. Negara dinilai kecolongan karena penyusup bisa masuk hingga ke lingkar pengamanan utama kepala negara.
Tak lama setelah peristiwa itu, Soekarno membentuk Resimen Tjakrabirawa. Satuan elite tersebut kemudian menjadi cikal bakal sistem pengamanan presiden modern di Indonesia. (*)