Niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Senin, Simak Penjelasan hingga Hukumnya

Minggu, 24/05/2026 23:46 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Umat Islam di Indonesia akan menyambut salah satu momen spiritual paling agung dalam kalender hijriah: Hari Tarwiyah, yang tahun ini jatuh pada Senin, 25 Mei 2026, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 H. Sementara puncak Idul Adha di Indonesia, mayoritas akan dirayakan pada Rabu, 27 Mei 2026.

Selain ibadah haji di Tanah Suci, puasa Tarwiyah menjadi amalan istimewa yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji di bulan Dzulhijjah ini. Ini adalah kesempatan emas yang hanya datang setahun sekali.

Namun, berhubung hari Tarwiyah tahun ini bertepatan dengan hari Senin, bolehkah jika pelaksanaan puasa Tarwiyah digabung dengan puasa sunnah lainnya, seperti puasa Senin dan Kamis? Bolehkah niat keduanya digabung? Bagaimana keutamaannya? Berikut adalah penjelasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Apa Itu Puasa Tarwiyah dan Apa Keutamaannya?

Puasa Tarwiyah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah, dua hari sebelum Idul Adha. Keutamaannya luar biasa. 

Puasa Tarwiyah sering dikaitkan dengan sebuah riwayat yang berbunyi:

“Puasa pada hari Tarwiyah dapat menghapus dosa selama satu tahun, sedangkan puasa hari Arafah menghapus dosa selama dua tahun.”

Riwayat tersebut dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Namun, banyak ulama menilai hadis ini berstatus dha’if (lemah) karena terdapat perawi yang dianggap kurang terpercaya dalam sanadnya.

Meskipun demikian, amalan puasa Tarwiyah tetap memiliki landasan dari hadis-hadis shahih yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, termasuk ibadah puasa.

Salah satu hadis yang menjadi dasar anjuran tersebut adalah sabda Nabi Muhammad SAW:

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dibanding hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang berangkat berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan beramal pada awal bulan Dzulhijjah. Karena itu, puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah atau yang dikenal sebagai puasa Tarwiyah termasuk salah satu bentuk amal saleh yang dianjurkan untuk dikerjakan.

Bolehkah Puasa Tarwiyah Digabung dengan Niat Puasa Senin?

Tahun ini, Hari Tarwiyah bertepatan dengan hari Senin. Ini menimbulkan pertanyaan fiqih menarik: bolehkah menggabungkan niat puasa Tarwiyah dengan puasa Senin? Jawabannya, menurut mayoritas ulama: boleh dan sah.

Dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakar Syatha menjelaskan bahwa ketika dua sebab ibadah bertemu, seperti puasa Tarwiyah dan Senin, seseorang boleh menggabungkan niat dan akan memperoleh pahala keduanya.

Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin menjelaskan:

“Ketika dua sebab berkumpul dalam satu ibadah, seperti puasa Arafah atau Asyura bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka sangat dianjurkan berpuasa dengan dua niat sekaligus. Seseorang yang berniat keduanya akan memperoleh pahala dari keduanya. Ini seperti bersedekah kepada keluarga dengan niat sedekah dan silaturahmi.”

Karena puasa Tarwiyah dan puasa Senin-Kamis sama-sama termasuk puasa sunnah, maka niat keduanya dapat digabung dan dikerjakan bersamaan.

Hal ini diperkuat oleh penjelasan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, bahwa ta’yin (penyebutan jenis puasa) memang disunnahkan, namun apabila tidak dilakukan secara eksplisit dan waktunya bertepatan, tetap mendapat keutamaan.

Tata Cara dan Niat Puasa Tarwiyah

Seperti puasa sunnah lainnya, termasuk puasa Senin dan Kamis, puasa Tarwiyah juga dilakukan mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dengan niat yang dilakukan sebelum terbit fajar. Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta`âlâ.

Artinya: "Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta`ala."

Jika digabung dengan puasa Senin, bisa dibaca:

Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْتَرْوِيَة وَعَنْ صَوْمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaitu shouma ghadin ‘an adaai sunnatil Tarwiyah wa ‘an shouma yaumal itsnaini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya:
“Saya niat puasa sunnah Tarwiyah esok hari dan puasa hari Senin karena Allah Ta’ala.”

Hukum dan Etika Pelaksanaan Puasa Tarwiyah

Mengutip laman Nahdlatul Ulama, puasa Tarwiyah disunnahkan bagi mereka yang telah menyempurnakan puasa Ramadan, serta yang tidak menunaikan ibadah haji. Bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadan, ulama berbeda pendapat. Namun, mayoritas ulama menyarankan agar puasa wajib ditunaikan terlebih dahulu. Namun, sebagian memperbolehkan mendahulukan puasa sunnah jika waktu qadha masih luas.

Ulama dari kalangan Syafi’iyyah mengklasifikasikan puasa Tarwiyah sebagai puasa rawatib berdasarkan waktu, sehingga keutamaannya tetap bisa diraih meski digabung dengan puasa lain seperti Senin-Kamis atau Puasa Dawud. (*)

Wallohu`alam

TERKINI
20 Ucapan Iduladha 2026 Bahasa Arab Lengkap dengan Artinya Hari Tiroid Sedunia Setiap 25 Mei, Ini Sejarah dan Awal Mula Peringatannya 25 Mei 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini Eliano Reijnders Takjub, Sebut Bobotoh Lebih Gila dari Eropa