Kamis, 21/05/2026 16:49 WIB
Berlin, Jurnas.com - Kanselir Jerman Friedrich Merz mengusulkan status anggota asosiasi tanpa hak suara di Uni Eropa untuk Ukraina, ketika Kyiv terus menjalani proses panjang untuk bergabung secara penuh.
Rencana yang pertama kali dilontarkan oleh Merz bersama rekan-rekan Uni Eropa bulan lalu, akan membuat pemimpin Ukraina dapat menghadiri KTT blok tersebut, namun tidak memiliki hak untuk memberikan suara.
Melalui skema proposal ini, Kyiv akan memiliki perwakilan di kursi pimpinan eksekutif Uni Eropa, yaitu Komisi Eropa, serta memiliki anggota tanpa hak suara di Parlemen Eropa.
Di bawah usulan yang diuraikan oleh Merz dalam suratnya kepada kepala Uni Eropa Ursula von der Leyen dan Antonio Costa, klausul bantuan timbal balik blok tersebut akan berlaku untuk Ukraina, dan negara tersebut juga dapat memperoleh manfaat dari sebagian anggaran Uni Eropa.
Kanselir Jerman Desak Perombakan Anggaran Uni Eropa demi Pertahanan
Jerman Sebut Siap Bantu Buka Kembali Selat Hormuz
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Imbas Kritikan Friedrich Marz
“Sangat jelas bahwa kita tidak akan dapat menyelesaikan proses aksesi dalam waktu dekat, mengingat hambatan yang tak terhitung jumlahnya serta kompleksitas politik dari proses ratifikasi. Apa yang saya bayangkan adalah solusi politik yang membawa Ukraina secara substansial lebih dekat ke Uni Eropa dan lembaga-lembaga utamanya dengan segera,” tulis Friedrich Merz dikutip dari AFP pada Kamis (21/5).
Ukraina saat ini terus mendesak untuk mempercepat upayanya bergabung dengan Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara, seiring perjuangan mereka melawan invasi Rusia di medan perang.
Kemajuan Kyiv sebelumnya sempat diblokir oleh mantan perdana menteri nasionalis Hungaria Viktor Orban, namun penggulingannya oleh sang rival Peter Magyar telah memunculkan harapan baru bahwa langkah Kyiv kini dapat bergerak maju.
Kendati demikian, rencana Merz ini berpotensi menghadapi skeptisisme, baik dari rekan-rekan Jerman sesama anggota Uni Eropa maupun dari pihak Ukraina sendiri.
Kyiv sangat ingin menjaga momentum untuk bergabung sepenuhnya dengan blok tersebut, dan khawatir bahwa setiap solusi sementara yang diusulkan justru akan membuat mereka terdampar di posisi setengah jalan tanpa kepastian.
Pemimpin Jerman tersebut menegaskan bahwa ia tetap menginginkan Ukraina pada akhirnya menjadi anggota penuh dan mendesak untuk segera meluncurkan seluruh klaster negosiasi.
“Ini tidak akan menjadi keanggotaan yang ringan,” tulis Friedrich Merz.
Ukraina memandang keanggotaan Uni Eropa sebagai hal yang sangat vital bagi pemulihan dan keamanan masa depan mereka, terutama karena Amerika Serikat pada dasarnya telah menutup pintu bagi negara tersebut untuk bergabung dengan aliansi militer NATO.