Selasa, 19/05/2026 13:31 WIB
Jakarta, Jurnas.com- Gerakan kebudayaan dengan menyentuh nurani bangsa di tengah hiruk-pikuk situasi sosial politik saat ini digelar di Gedung PPHUI Jakarta pada Sebin (18/5/2026). Panggung musik tidak sekadar menjadi tempat hiburan melainkan ruang kontemplasi batin yang mendalam. Ketukan ritme modern berpadu dengan lirik-lirik sufistik yang menghentak kesadaran, menciptakan atmosfer yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu resonansi.
Acara yang diinisiasi oleh PWI Jaya bersama komunitas Tiga Jantung ini berhasil menarik perhatian publik karena membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan estetika panggung. Melalui untaian nada, para seniman yang terlibat berusaha mengikis sekat-sekat perbedaan dan mengajak para pendengar untuk menundukkan kepala sejenak. Di balik kemegahan tata lampu dan suara, ada pesan sunyi yang ingin disampaikan kepada setiap jiwa yang hadir, terutama mengenai kondisi moralitas dan spiritualitas bangsa. Ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap situasi negeri dengan pergelaran secara khusus dirancang untuk menyuarakan pesan-pesan perdamaian dan perbaikan diri secara massal.
Penulis lagu sekaligus perwakilan Tiga Jantung, Kiai Syaiful Umar, menegaskan bahwa esensi utama dari berkumpulnya para musisi ini adalah demi keselamatan bersama.
“Kita tidak ingin ada bencana lebih besar di negeri ini, makanya kita mesti mohon kepada Allah dan tobat bersama,” kata Penulis lagu sekaligus perwakilan Tiga Jantung, Kiai Syaiful Umar.
PWI Jaya dan Pemprov DKI Gelar MH Thamrin Award 2023, Ini Daftar Pemenangnya
Ketua PWI Jaya bersama Masyarakat Luas Dukung Labelisasi BPA di Galon Guna Ulang
Keren Banget, Dnanda dan Daniel Pratama Apresiasi Fashion Show Touring Indonesia Merdeka
Gerakan yang dinamakan Mahabbah Allah Pakem 9 ini digagas bukan tanpa alasan yang kuat oleh para pencetusnya. Kiai Syaiful Umar, atau yang akrab disapa Mbah Syaiful, mengungkapkan bahwa dirinya menangkap sinyal-sinyal gaib yang menjadi peringatan penting bagi masa depan Indonesia. Menurut pengamatannya, serangkaian bencana alam yang melanda berbagai wilayah belakangan ini merupakan pertanda bahwa ada sesuatu yang harus segera dibenahi dalam relasi antara manusia dengan Sang Pencipta.
Pesan spiritual ini kemudian dituangkan dalam bentuk karya seni sebagai medium yang dianggap paling cair untuk diterima oleh masyarakat luas. Melalui konser ini, Mbah Syaiful ingin mengetuk hati nurani tidak hanya masyarakat biasa, tetapi juga para pemimpin negeri dan elite kekuasaan yang memegang kendali kebijakan. Krisis sosial, ketidakadilan, serta memudarnya rasa empati dinilai menjadi akar dari berbagai persoalan yang saat ini sedang dihadapi oleh bangsa.
Untuk mewujudkan visi spiritual tersebut, sejumlah musisi lintas generasi dari berbagai latar belakang genre musik bersatu di atas panggung Auditorium PPHUI. Nama-nama besar seperti Baruna Elpamas, Taraz Biztara dari TRIAD, Yoel Pery dari Nu KLa, serta vokalis Axl tampak bahu-membahu memperkuat lini instrumen. Mereka tergabung dalam sebuah kolaborasi yang dinamakan Interstate Pakem 9 Band, bertugas mengekspresikan gagasan mendalam dari sang kiai.
Gitaris Taraz Biztara mengakui bahwa karya-karya yang diciptakan oleh Mbah Syaiful, yang dibantu oleh Adi Pamungkas serta Heri Machan, memiliki kekuatan magis yang sangat luar biasa. Lagu-lagu tersebut dinilai mampu melintasi batas generasi, mazhab, bahkan agama karena membawa nilai spiritualitas universal. Proses adaptasi lagu-lagu senior ini menjadi tantangan tersendiri bagi para musisi muda agar pesannya tetap utuh sampai ke telinga pendengar.
“Tantangannya, kami harus mendeliver karya yang dibuat para seniman senior agar sampai ke telinga dan hati penonton lintas generasi. Tugas kami saat di panggung, menerjemahkan lirik itu ke dalam ekspresi,” terang Taraz Biztara.
Lagu-lagu yang dibawakan malam itu seperti “Rasulullah”, “Astaghfirullah”, “Pemimpin”, “NKRI Harga Mati”, hingga “Do’a Bangsa” laksana fragmen doa yang dirangkai demi keselamatan negara dengan tagline `Selamatkan Indonesia`. Langkah unik ini diambil karena situasi dinilai sudah cukup mendesak jika melihat rentetan bencana alam yang terus terjadi berurutan di berbagai daerah. Kesadaran kolektif untuk menata kembali akhlak sosial dan politik dianggap sebagai solusi mutlak yang harus segera ditempuh.
Ancaman mengenai kehancuran sosial dan alam ini bahkan dikaitkan langsung oleh Mbah Syaiful dengan ramalan kuno yang melegenda di tanah Jawa. Ia mengingatkan kembali petunjuk masa lalu tentang potensi keruntuhan geologis dan demografis yang bisa terjadi kapan saja jika manusia mengabaikan peringatan alam.
“Konser ini dibuat untuk seluruh umat manusia, saya khawatir kalau kita tidak segera bertaubat ada bencana yang lebih besar menimpa negri ini. Rentetanya sudah jelas, ada banjir Aceh dan Sumatera Utara, belum kemarin gempa di Maluku Utara dan Sulawesi Utara dan lain lain. Ramalan Jangka Jaya Baya ratusan tahun silam bisa saja terjadi, Tanah Jowo Sigar Dadi Loro, Wong Jowo Gari Separo Wong Cino Tinggal Sejodo bisa saja terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi,” pungkas Mbah Syaiful.