Selasa, 12/05/2026 21:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, E. Aminudin Aziz, menyayangkan fenomena banyaknya perpustakaan sekolah maupun perpustakaan umum yang tidak cukup menarik bagi masyarakat. Padahal, perpustakaan berperan penting dalam proses meningkatkan literasi dan numerasi.
Bahkan, Aminudin mengibaratkan perpustakaan saat ini lebih umum dipersepsikan sebagai tempat menyimpan buku, dan meninggalkan kesunyian. Orang yang ditugaskan di perpustakaan pun stigmanya seperti mendapatkan kutukan.
"Ada program yang selama ini didengungkan tapi tidak pernah terjadi secara kontinyu. Misalnya, membaca 15 menit sebelum masuk kelas. Tapi lama kelamaan hilang lagi," kata Aminudin dalam kegiatan dialog media di Jakarta pada Selasa (12/5).
Oleh karena itu, Aminudin mengimbau agar gerakan mencintai perpustakaan dimulai dari bangku sekolah. Salah satunya dengan sering memindahkan kegiatan membaca dari ruang kelas ke perpustakaan.
Lestari Moerdijat: Upaya Meningkatkan Literasi Anak Bangsa Harus Konsisten
Perpustakaan Kemdikdasmen Raih Akreditasi A dari Perpusnas
Perpusnas Pangkas Jam Operasional Imbas Efisiensi Anggaran
"Jadi bukan buku yang dibawa ke ruang kelas, tapi murid masuk ke perpustakaan. Jadi yang jaga perpustakaan juga ikut senang karena yang datang bukan hanya jin, tapi manusia. Tidak menunggu jin beranak pinak. Tapi ada kelompok yang namanya manusia," seloroh Aminudin.
Lebih lanjut, pemerintah mengalokasikan 10 persen dari Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) untuk buku non-teks. Namun, data terkait penggunaan buku non-teks ini sulit ditemui.
"Kalau begitu kita gabungkan data antara Nomor Pokok Siswa Nasional (NPSN) dengan Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) agar data perpustakaan sama dengan dapodik," ujar dia.
"Tujuannya, untuk menyeragamkan model pemberdayaan perpustakaan baik di sekolah maupun non-sekolah. Supaya pembinaan yang dilakukan perpusnas itu betul-betul berdampak," dia menambahkan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan bahwa tahun ini disiapkan total Rp2,2 triliun untuk program Revitalisasi Satuan Pendidikan di 938 SMK, SLB, dan PKBM/SKB.
Dana yang diterima oleh satuan pendidikan, dapat digunakan untuk pembangunan gedung baru, rehab berat, dan rehab sedang. Termasuk dalam hal ini pembangunan perpustakaan.
Pada 2025 lalu, dari 1.465 SMK di seluruh Indonesia yang mendapatkan program Revitalisasi Satuan Pendidikan, terbangun 155 gedung baru perpustakaan dan 77 rehabilitasi fisik.
"Revitalisasi bukan hanya pembangunan atau renovasi gedung, tapi membangun ekosistem pendidikan sehingga terjadi transformasi pendidikan," kata Dirjen Tatang.