Selasa, 12/05/2026 21:30 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Bank Dunia memperingatkan pertumbuhan ekonomi Pasifik melambat sekitar 2,8 persen pada 2026.
Meningkatnya biaya bahan bakar dan pelayaran, gangguan rantai pasokan yang sedang berlangsung, dan ketidakpastian global yang kembali meningkat terus membebani perekonomian di kawasan Pasifik.
Laporan itu memperingatkan bahwa guncangan eksternal berulang telah menjadi "kenormalan baru" di kawasan itu, yang semakin membebani pemerintah, bisnis, dan rumah tangga di seluruh Pasifik, lapor Fiji Broadcasting Corporation pada Selasa (12/5).
Negara-negara Pasifik masih sangat rentan terhadap volatilitas harga bahan bakar. Impor minyak menyumbang sekitar 15 hingga 25 persen dari total impor barang di banyak negara di kawasan tersebut.
5 Negara Eropa Mundur dari Eurovision 2026 Akibat Partisipasi Israel
Uni Eropa Sepakati Sanksi Baru ke Pemukim Israel di Tepi Barat
Iran Ancam Buka Medan Pertempuran Baru Jika AS-Israel Lanjutkan Agresi
Bank Dunia menyatakan bahwa gangguan yang persisten dalam pasar bahan bakar dan pelayaran berpotensi kian menghambat pertumbuhan ekonomi dalam enam hingga sembilan bulan ke depan.
Laporan itu juga menyoroti peningkatan kekhawatiran perihal melemahnya penyangga fiskal, seiring guncangan yang berturut-turut memberikan tekanan berkelanjutan pada keuangan pemerintah.
Bank Dunia menyerukan pengelolaan keuangan publik yang lebih kuat dan dukungan tertarget bagi rumah tangga rentan sembari memperingatkan agar tidak menerapkan subsidi meluas yang dapat memberikan tekanan lebih lanjut terhadap ruang fiskal yang terbatas.