Selasa, 05/05/2026 16:15 WIB
Teheran, Jurnas.com - Iran menuduh Amerika Serikat (AS) telah membunuh lima warga sipil di Selat Hormuz. Teheran mengeklaim bahwa pasukan AS menyerang kapal penumpang di jalur perairan tersebut, alih-alih kapal milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagaimana yang dituduhkan Washington.
Pernyataan yang dirilis pada Selasa tersebut menyangkal keterangan Laksamana AS Brad Cooper, yang sebelumnya menyebut bahwa pasukan Komando Pusat (Central Command) telah menenggelamkan enam kapal IRGC.
Menurut Cooper, kapal-kapal tersebut mencoba mengganggu misi AS dalam mengawal kapal-kapal yang terdampar keluar dari Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump belakangan merevisi jumlah tersebut menjadi tujuh kapal.
Iran Bantah Serang UEA, Sebut AS Dalang Operasi False Flag
UEA Tangkis Serangan Rudal dari Iran, Fasilitas Minyak di Fujairah Terbakar
Teheran Tuding UEA Bekerja Sama dengan Agresor dalam Melawan Iran
Operasi AS yang diberi sandi “Project Freedom” ini telah mengguncang gencatan senjata rapuh yang dicapai antara Iran dan AS pada 8 April, serta memicu kekhawatiran akan kembalinya perang terbuka.
Lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, mengutip seorang komandan militer Iran yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa Teheran telah meluncurkan penyelidikan menyusul klaim serangan AS terhadap kapal-kapal IRGC.
Hasil penyelidikan tersebut menyatakan bahwa tidak ada satu pun kapal IRGC yang terkena serangan. Namun, penyelidikan menemukan bahwa pasukan AS "menyerang dua perahu kecil yang mengangkut orang-orang dalam perjalanan dari Khasab di pesisir Oman menuju pesisir Iran pada hari Senin."
Komandan tersebut menambahkan bahwa serangan itu menghancurkan kedua perahu dan menewaskan lima penumpang sipil. AS “harus bertanggung jawab atas kejahatan mereka,” tegas sang komandan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar resmi dari militer Amerika Serikat.
Kekerasan ini pecah di saat Trump berupaya membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif diblokade oleh Iran menyusul serangan AS dan Israel ke negara tersebut pada 28 Februari lalu.
Penutupan koridor maritim vital ini—jalur transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia—telah menyebabkan harga minyak dan pupuk melonjak secara global. Hal ini memicu ketakutan akan resesi dunia dan krisis pangan darurat.
Iran kini bersikeras untuk tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan memungut biaya transit sebagai bentuk reparasi atau ganti rugi atas kehancuran yang disebabkan oleh serangan Amerika Serikat dan Israel.
Sumber: Aljazeera