Selasa, 05/05/2026 08:47 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) kembali membuka program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) tahun 2026. Melalui program TEP, Kementrans menegaskan bahwa pembangunan lahir dari keberanian untuk turun langsung ke lapangan sejalan dengan arah transformasi transmigrasi.
Kementrans menilai, di tengah potensi besar yang dimiliki Indonesia tanah yang subur, laut yang kaya, dan masa depan yang terbuka lebar masih terdapat kesenjangan yang nyata di berbagai wilayah, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Karena itu, negara membutuhkan lebih dari sekadar ide. Negara membutuhkan kehadiran nyata.
Menteri Transmigrasi (Mentrans), M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa arah pembangunan nasional harus menjangkau seluruh pelosok negeri, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Indonesia terlalu besar untuk hanya didiskusikan dari ruang kelas dan ruang ekspresi. Di banyak tempat, tanahnya subur, lautnya kaya, masa depannya besar. Tetapi, kemiskinan masih tinggal di sana. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Bangsa ini membutuhkan kehadiran,” kata Menteri Iftitah dalam keterangannya, Minggu (3/5).
Pendaftaran Tim Ekspedisi Patriot 2026 Dibuka, Cek Link dan Penempatannya
Kementrans Dorong Kawasan Transmigrasi Jadi Motor Baru Swasembada Pangan
Perkuat Transformasi Transmigrasi, Kemetrans Siapkan 1400 Peserta TEP 2026
Pada tahun 2026, sejumlah 1.458 Tim Ekspedisi Patriot akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Para peserta akan menjalankan kegiatan riset, kajian, serta pendampingan masyarakat secara langsung. Program ini dinilai mampu memperkuat kehadiran negara sekaligus menjawab kebutuhan riil masyarakat, sebagaimana telah dirasakan pada pelaksanaan TEP tahun 2025.
TEP yang terjun ke lapangan dibagi dua masa pengabdian yaitu empat bulan untuk TEP Non Papua, dan satu tahun untuk TEP yang mengabdi di Papua.
Para peserta lulusan D4/S1 akan terjun langsung ke masyarakat untuk mendampingi petani dan nelayan, membantu proses pendidikan di sekolah, mendukung layanan kesehatan, hingga berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur dasar dan penguatan ekonomi lokal di kawasan transmigrasi.
“Transmigrasi Patriot adalah panggilan. Satu tahun pengabdian untuk turun langsung ke lapangan, menghadirkan harapan baru, membuka peluang kerja, dan membangun ekonomi masyarakat. Karena Indonesia tidak dibangun oleh para penonton, tetapi oleh mereka yang memilih hadir bersama rakyatnya di garis depan pembangunan,” kata Mentrans.
Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia yakni Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Mentrans menyebut program ini juga terbuka bagi lulusan sarjana di luar 10 kampus yang telah berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi.
“Jika bukan sarjana dari 10 universitas tadi, masih dimungkinkan untuk mendaftar. Ada kolom kesebelasnya, itu adalah kolom perguruan tinggi lainnya, kampus swasta, kampus di manapun di seluruh Indonesia, boleh berpartisipasi dalam program ini,” ujarnya.
Seluruh pendaftar akan melewati tahapan seleksi yang hasilnya akan diumumkan pada bulan Juni. Kemudian bulan Juli akan dilaksanakan pembekalan dan kemudian berangkat menuju daerah penugasan masing-masing di 53 kawasan transmigrasi.
Menteri Iftitah menekankan pengabdian dalam Transmigrasi Patriot bukan tentang kehebatan individu, melainkan tentang komitmen dan keberanian untuk bertahan dan memberi makna.
“Transmigrasi bukan tentang siapa yang paling hebat. Ini tentang siapa yang tetap tinggal ketika yang lain memilih pergi. Siapa yang bekerja ketika yang lain hanya berbicara. Siapa yang menjawab ketika bangsanya memanggil,” ujarnya.
Kementerian Transmigrasi mengajak seluruh anak muda Indonesia untuk mengambil bagian dalam gerakan ini. Sebab, Indonesia tidak menunggu kesempurnaan Indonesia menunggu kepedulian, kehadiran, dan tindakan nyata.
“Indonesia tidak menunggu kita sempurna. Indonesia menunggu kita peduli. Indonesia menunggu kita hadir. Indonesia menunggu kita berbuat. Indonesia memanggil,” pungkas Menteri Iftitah.
Melalui Tim Ekspedisi Patriot, Kementerian Transmigrasi berharap lahir generasi baru pelopor pembangunan yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.