Jum'at, 24/04/2026 23:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kebakaran hutan yang dulu cenderung mereda saat malam kini berubah pola dan semakin sulit dikendalikan. Studi terbaru menunjukkan api tetap aktif lebih lama hingga malam, bahkan mulai lebih awal di pagi hari, memperpanjang durasi pembakaran secara signifikan.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances mengungkap, jumlah jam dalam setahun dengan kondisi yang mendukung kebakaran meningkat hingga 36 persen dibandingkan 50 tahun lalu. Di wilayah seperti California, hal ini setara dengan tambahan sekitar 550 jam, sementara beberapa area di Amerika Serikat bagian barat daya mencapai hingga 2.000 jam tambahan.
Tak hanya itu, musim rawan kebakaran juga semakin panjang, dengan peningkatan sekitar 44 persen atau setara 26 hari tambahan setiap tahunnya. Artinya, meski tidak selalu terjadi kebakaran, kondisi lingkungan kini jauh lebih siap untuk terbakar kapan saja.
Dikutip dari Earth, perubahan ini terutama dipicu oleh suhu malam yang tidak lagi mendingin seperti sebelumnya. Peneliti dari University of Alberta, Kaiwei Luo, bersama Xianli Wang menjelaskan bahwa malam hari kini kehilangan peran pentingnya sebagai “waktu istirahat” bagi api.
Ilmuwan Temukan Tanaman Terus Naik ke Puncak Himalaya, Ini Penyebabnya
Studi Ungkap Batas Suhu Padi, Indonesia Hadapi Ancaman Penurunan Produksi
Deretan Kebiasaan Malam Hari yang Mengancam Kesehatan Jantung
“Api biasanya melambat atau bahkan berhenti pada malam hari. Namun dalam kondisi risiko kebakaran ekstrem, api justru terus menyala sepanjang malam,” ujar Wang.
Kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan iklim yang meningkatkan suhu global. Sejak 1975, suhu malam musim panas di Amerika Serikat meningkat lebih cepat dibanding siang hari, membuat kelembapan sulit pulih dan lingkungan menjadi lebih kering.
Udara kering tersebut menyerap kelembapan dari tanah dan vegetasi, menjadikan hutan dan padang rumput sebagai bahan bakar yang mudah terbakar. Dampaknya semakin parah saat terjadi kekeringan, di mana vegetasi menjadi lebih rentan terhadap api.
Fenomena ini telah terlihat dalam sejumlah kebakaran besar, seperti kebakaran Lahaina di Hawaii yang dimulai dini hari, serta kebakaran di Alberta dan Los Angeles yang terus berlangsung sepanjang malam. Tanpa jeda alami, api memiliki momentum lebih besar dan lebih sulit dihentikan.
Ilmuwan kebakaran dari University of California, Merced, John Abatzoglou, menegaskan perubahan ini sangat signifikan. “Malam hari tidak lagi menjadi jeda yang bisa diandalkan. Pemanasan global dan rendahnya kelembapan membuat api tetap aktif sepanjang malam,” katanya.
Bagi petugas pemadam, kondisi ini meningkatkan risiko kerja. Operasi malam hari memiliki keterbatasan visibilitas dan medan yang lebih berbahaya, sementara waktu istirahat semakin berkurang karena api tidak pernah benar-benar berhenti.
Selain itu, ekosistem hutan juga semakin tertekan. Tanaman tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan kelembapan yang hilang di siang hari, sehingga meningkatkan jumlah material kering yang mudah terbakar.
Data menunjukkan dampaknya semakin nyata. Dalam periode 2016–2025, kebakaran hutan di Amerika Serikat membakar area sekitar 11.000 mil persegi per tahun atau naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan dekade 1980-an. Tren serupa juga terjadi di Kanada dengan peningkatan luas kebakaran hampir tiga kali lipat.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa tren ini kemungkinan akan terus berlanjut seiring kenaikan suhu global. Peneliti dari Syracuse University, Jacob Bendix, menyebut temuan ini sebagai “pengingat serius akan peran perubahan iklim dalam meningkatkan potensi kebakaran di hampir semua wilayah rawan kebakaran di Amerika Utara.”
Perubahan ini menandai era baru kebakaran hutan yang tidak hanya lebih besar, tetapi juga lebih “aktif” tanpa henti yang mengubah cara manusia harus menghadapi dan mengendalikannya.